Archive for Maret 2016
Sejarah UNPAS
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) merupakan salah satu Fakultas tertua --disamping Fakultas Hukum-- di lingkungan Universitas Pasundan. Didirikan pada tanggan 14 Nopember 1960 seiring dengan berdirinya Universitas Pasoendan yang pada saat itu bernaung dibawah Yayasan Universitas Pasoendan berdasarkan Akta Notaris Mr. Tan Eng Kiam No. 4 Tanggal 14 Nopember 1960 sebagaimana telah dirubah berdasarkan Akta Notaris Komar Andasasmita No. 39 Tanggal 24 Maret 1967.
Yayasan Universitas Pasoendan sekarang telah berganti nama menjadi Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan (YPTP) dan berada dibawah naungan Paguyuban Pasundan. Berdirinya FISIP dan fakultas-fakultas lain dalam lingkungan Universitas Pasundan secara keseluruhan tidak lepas dari tujuan dan cita-cita Paguyuban Pasundan sebagai induk organisasi yang didirikan pada tahun 1914. Paguyuban Pasundan sebagai organisasi etno-nasionalisme tertua dan terbesar di Indonesia dalam bidang garapannya memang lebih menekankan pada pengabdian pendidikan dalam upaya turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Sampai tahun 2003, Paguyuban Pasundan telah menaungi 4 Perguruan Tinggi (Universitas Pasundan, STKIP Pasundan, STH Pasundan, dan STIE Pasundan), dan menaungi kurang lebih 80 unit SLTA/SLTP yang tersebar di Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.
Masa Rintisan (1978-1992)
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pasundan yang seterusnya disingkat menjadi FKIP Unpas didirikan sejak tahun 1978 setelah beberapa fakultas lainnya seperti Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Hukum (FH), Fakultas Teknik (FT), dan Fakultas Ekonomi (FE) dengan beberapa Program Studi di dalamnya telah lebih dahulu menjadi bagian dari fakultas-fakultas yang ada di lingkungan Unpas. FKIP Unpas didirikan sebagai realisasi dari amanat Kongres Paguyuban Pasundan ke-34 pada tanggal 13 Oktober tahun 1975 di Bogor tentang perlunya membentuk panitia persiapan pendirian IKIP Pasundan di Bandung. Berdasarkan masukan serta berbagai pertimbangan bahwa untuk wilayah Jawa Barat dan Banten (ketika itu Provinsi Banten masih menjadi bagian dari Jawa Barat), masih banyak sekolah yang dirasakan kekurangan tenaga pengajar (guru) pada pendidikan formal baik untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Setelah kurang lebih tiga tahun, para panitia pendirian IKIP Pasundan yang sebagian besar merupakan para pengurus Yayasan Pendidikan Pasundan (YPP) melakukan studi kelayakan, menganalisis kebutuhan tenaga guru, diskusi dan konsultasi dengan beberapa pakar dibidang pendidikan, pada akhirnya bersepakat untuk mengajukan usulan pendirian IKIP Pasundan ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). Usulan pendirian dengan terlebih dahulu meminta pertimbangan kepada Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) di Jakarta dan IKIP Pasundan menjadi bagian fakultas saja di Lingkungan Universitas Pasundan dengan nama Fakuktas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di singkat menjadi FKIP Unpas. Selama tiga tahun terlalui pada akhirnya YPP mendapatkan Surat Keputusan Pendirian FKIP Unpas pada tanggal 20 Januari 1978 dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depdikbud RI, dan Mr. Oesadi, S.H., yang juga pernah menjadi Rektor Unpas pada periode 1971-1981, bertanggung jawab sebagai Dekan FKIP Unpas pertama berdasarkan SK. yang keluarkan oleh YPP.
Di awal perintisannya, FKIP Unpas hanya membuka satu Jurusan yaitu Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan dua konsentrasi/ Program Studi yaitu Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum, serta Program Studi Ekonomi dan Akuntansi. Seiring dengan berjalannya waktu serta merespon dinamika perkembangan yang terjadi di masyarakat, pada masa ini juga dibuka Program Studi baru lainnya yaitu program studi Ekonomi Perusahaan (Ekper), Program Studi Ekonomi Umum (Ekum) dan Program Studi Administrasi Pendidikan (Adpen).
Empat tahun terlalui sebagai masa perintisan yang sulit dan penuh dengan tantangan, kepemimpinan FKIP Unpas yang diamantkan kepada Bapak Oesadi, S.H. (1978-1981) akhirnya berakhir. Estapet kepemimpinan FKIP Unpas kemudian dilanjutkan kepada Bapak Drs. H.S. Maman Sudyaatmadja. Pada masa kepemimpinan beliau Program Studi yang yang ada di lingkungan FKIP Unpas secara resmi mendapatkan Surat Keputusan menganai izin pendirian dan penyelenggaraan dari Mendikbud RI. Program studi Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum (PKnH) disahkan dalam SK sebagai Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN). Begitu pula halnya dengan Program Studi lainnya yang diusulkan setelah Dirjen Dikti melakukan evaluasi dan monitoring terhadap kelayakan bagi Program Studi, akhirnya Mendikbud RI menyetujui dan mensahkan untuk Program Studi Pendidikan Ekonomi Akuntansi FKIP Unpas.
Secara nasional ketika itu dinamika perkembangan dan fluktuasi minat masyarakat untuk masuk ke Perguruan Tinggi, khususnya program studi penyelenggara pencetak calon guru masih sangat rendah di bandingkan dengan program studi lainnya. Calon mahasiswa di FKIP Unpas khususnya dan LPTK pada umumnya mengalami penurunan. Hal tersebut sudah barang tentu menjadi masalah dan memerlukan pemikiran yang serius bagi para perintis dalam menghadapi situasi tersebut sehingga tetap bias bertahan di tengah-tengah suasana sulit itu. Di lingkungan Unpas sendiri jumlah mahasiswa FKIP Unpas paling sedikit di bandingkan dengan fakultas lainnya. Karena terjadi perbedaan yang signifikan untuk jumlah peserta dibandingkan dengan fakultas lain di lingkungan Unpas, maka pada masa kepemimpinan Bapak Drs. H.S. Maman Sudyaatmadja FKIP mencoba mengusulkan pendirian program studi baru untuk mengakomodir dan memberikan banyak alternatif pilihan bagi masyarakat yaitu Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (BI), Jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) dengan dua Program Studi yakni, Program Studi Pendidikan Matematika dan Program Studi Pendidikan Biologi, Serta Jurusan Bimbingan Penyuluhan (BP).
Hasil dari kerja keras tim pendirian untuk beberapa program studi pada akhirnya membuahkan hasil dan tanggapan yang positif dari Mendikbud dan masyarakat, hal tersebut terbukti dengan jumlah peminat dari para mahasiswa yang melonjak bertambah banyak setiap tahunnya. Hal tersebut dipengaruhi dengan ditunjangnya dari SK. yang dikeluarkan oleh Mendikbud sebagai legitimasi yang sah di mata masyarakat yakni untuk Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di-SK-kan pada tanggal 10 Mei 1982, kemudian untuk Program Studi Pendidikan Matematika pada tahun 1985, dan Program Studi Pendidikan Biologi tanggal 5 Oktober 1985, menjadi bagian dari program studi FKIP Unpas, dan pada akhir tahun 1987 FKIP Unpas mempersiapkan diri untuk menempati tempat baru yang bertampat di Jalan Tamansari no. 6 Bandung (FKIP Unpas sekarang).
Empat tahun berlalu sudah untuk kepengurusan Bapak Drs. H.S. Maman Sudyaatmadja (1989-1992), melalui aktifitas pemilihan Dekan yang berdasarkan ketentuan YPP yang harus dilaksanakan secara adil, rahasia dan terbuka. Berdasarkan SK yayasan pada tanggal 10 Nopember 1989, kepemimpinan FKIP Unpas dipercayakan kepada Bapak Drs. H. Memed Erawan. Pada kepemimpinan beliau FKIP Unpas berjalan sebagai rintisan dalam menciptakan kepercayaan terhadap masyarakat dengan memproyeksikan agar lulusan FKIP Unpas dapat unggul dalam berkompetisi dengan lulusan-lulusan FKIP atau IKIP dari Perguruan Tinggi lainnya, hal tersebut ditunjukkan dengan pelaksanaan aktivitas lapangan berupa penelitian dan pengabdian masyarakat pada beberapa daerah di wilayah Jawa Barat. Pada masa kepemimpinan Bapak Drs. H. Memed Erawan berakhir (1989-1992) yang saat itu FKIP Unpas telah bertempat tinggal secara tetap di Jalan Tamansari berjalan dinamis mengikuti perkembangan dan menangkap berbagai peluang yang dapat menunjang FKIP Unpas yang dapat disebut sebagai masa perintisan bagi FKIP Unpas. Hal ini terumuskan dari hasil wawancara secara triangulasi dari para pakar dan para pendiri FKIP Unpas.
Masa Pengembangan (1992-2002)
Masa pengembangan, merupakan masa dimana peranan masyarakat memantau FKIP Unpas sebagai ikon atau figur sebagai contoh universitas swasta yang dapat bergerak secara masif dan bertahan dengan peranan para alumni, baik angkatan pertama maupun angkatan-angkatan berikutnya untuk dapat mendorong FKIP Unpas agar menjadi lebih baik di mata masyarakat. FKIP Unpas telah dipimpin oleh beberapa pemimpin yang memiliki idealisme dan loyalitas tinggi, pada saat kepemimpinan Bapak Drs. H. Memed Erawan berakhir, kepemimpinannya dilanjutkan oleh Bapak Drs. H.M. Didi Turmudzi, M.Si., yang pada saat pembuatan buku sejarah ini (2010) sedang menjabat sebagai Rektor Unpas, yang tertuang dalam SK yang dikeluarkan oleh Yayasan Perguruan Tinggi (YPT) tanggal 17 Nopember 1992, (YPP berubah menjadi YPT).
Masa kepemimpinan beliau tidak sampai akhir masa jabatan yang telah ditentukan oleh YPT, hal tersebut disebabkan oleh kinerna beliau yang baik sehingga sangat dibutuhkan untuk memegang tanggung jawab sebagai Pembantu Rektor III (bidang kemahasiswaan dan alumni) Unpas. Pada masa ini terdapat berbagai permasalahan yang diakibatkan oleh kebijakan pemerintah pendidikan yang mempengaruhi khususnya untuk program studi PPKn, yaitu terjadi kekurangan peminat bagi mahasiswa PPKn sampai pada satu waktu hanya tersisa 14 orang mahasiswa. Kebijakan pemerintah yang merugikan tersebut adalah penghilangan mata pelajaran PKn untuk tingkat pendidikan di sekolah.
Permasalahan tersebut tidak membuat para dosen PPKn dan pihak FKIP putus asa dalam membina program studi PPKn ini. Semua menyepakati termasuk didalamnya bapak Dr. Idrus Affandi. S.H. (sekarang telah menjadi Pembantu Rektor II di Universitas Pendidikan Indonesia), Bapak Drs. Atim Suparman, M.Pd. beserta para alumni lainnya yang menjadi bagian dari FKIP Unpas untuk melakukan berbagai strategi alternatif promosi sebagai program studi pertama. Seiring dengan perkembangan waktu, pada akhirnya kebijakan pemerintah kembali berpihak pada program studi PPKn yang ada di Indonesia.
Setelah kepemimpinan Bapak Drs. H.M. Didi Turmudzi, M.Si. (1992-1995), sebagai Dekan FKIP Unpas kemudian dilanjutkan oleh Bapak Drs. H. Atim Suparman, M.Pd. berdasarkan SK YPT pada tanggal 17 Nopember 1995. Pada kepemimpinan Bapak Drs. H. Atim Suparman, M.Pd., FKIP Unpas mengalami lonjakan peminat sebagai mahasiswa untuk beberapa program studi. Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, dilakukan pengajuan pengangkatan dosen yayasan untuk beberapa program studi, perbaikan serta pembuatan fasilitas pendukung dalam menunjang beberapa matakuliah pengembangan keterampilan, seperti: pembuatan lab bahasa, lab komputer, dan beberapa ruangan pendukung untuk beberapa program studi dalam upaya peningkatan keterampilan dan kreatifitas bagi para mahasiswa. Hal tersebut merupakan usaha mengembangkan FKIP Unpas untuk mencari alternatif pemencahan masalah yang dihadapi pada masa kepemiminan Bapak Drs. Atim Suparman, M.Pd. Selain itu, FKIP Unpas pada masa ini juga membidani pendirian dua Program Studi baru yaitu: Sastra Inggris dan Seni Musik yang merupakan cikal bakal berdirinya Fakultas Ilmu Seni dan Sastra (sekarang FISS Unpas).
Keberhasilan FKIP Unpas juga mendapat respon positif dari pihak pemerintah yaitu FKIP dipercaya untuk melaksanakan Pelatihan Guru Tetap Yayasan dan Dpk bagi guru SLTP Swasta tahun 1997, yang dilaksanakan setiap hari Jumat, Sabtu dan minggu selama tiga bulan . Kegiatan ini ketua pelaksananya adalah Bapak Drs. Sri Marten Yogaswara yang dukung oleh Bapak Darta, S.Pd., Bapak Drs. Deni Hermaen, Bapak Drs. Jaka Permana, dan Ibu Dra. Ani Budiarti.
Pada tahun 2000 FKIP Unpas mengelola anggaran dari provinsi untuk proyek Peningkatan Guru Inti Tambahan terkait dengan LEC Jawa Barat, yang dilaksanakan selama 3 bulan di empat Kabupaten yang berbeda yaitu: Cimahi, Kabupeten Bandung (Kec. Arjasari dan Kec. Cicalengka), dan Kabupaten Garut. Pada kegiatan ini yang menjadi ketua adalah Bapak Drs. Bambang Heru P, M.S yang di dampingi oleh Bapak Drs. Uus Toharudin, Bapak Darta, S.Pd., Bapak Cartono S.Pd., M.Pd., M.T., Bapak Drs. Azis Lukman Praja, Bapak Drs Toto Sutarto Gani Utari, M.Pd, Bapak Drs. Sri Marten Yogaswara, dan Bapak Drs. Musadad Abdul Azis, dengan penasehat Bapak Drs. Dadang Iskandar, Bapak Drs. Dadang Mulyana, M.Si (pada saat buku ini ditulis beliau telah menjadi Dekan FKIP Unpas terpilih) serta Bapak Drs. Atim suparman, M.Pd., sebagai penanggung jawab kegiatan. Hasil dari terlaksananya kepercayaan dari kedua kegiatan tersebut, menjadikan embrio dalam peningkatan rasa percaya diri bahwa FKIP Unpas mampu berkompetisi dengan kompetitor universitas lainnya baik swasta maupun negeri.
Masa ini merupakan masa pengembangan eksistensi FKIP Unpas di mata masyarakat melalui pemantauan langsung dari perwakilan struktur pemerintah yang ada di provinsi Jawa Barat. Masa kepemimpinan Bapak Drs. Atim suparman, M.Pd berakhir selama dua periode kepemimpinan (1995-2002), yang kemudian pada masa ini kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah mengenai pendidikan mulai mengarah keberpihakannya terhadap peluang FKIP Unpas untuk masa pengembangan berikutnya.
Pada masa ini FKIP mulai memantapkan dirinya dengan terus menerus mengembangkan lima Program Studi yang ada, yaitu Program Studi: PKn, Pendidikan Ekonomi Akuntansi, Pendidikan Bahsasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Pendidikan Biologi, dan Pendidikan Matematika. Begitu seterusnya sampai sekarang penyebutan Program Studi di lingkungan FKIP Unpas berdasarkan kurun waktu pendirian program studi tersebut. Sehingga jika didasarkan pada izin pendiriannya (sampai dengan tahun 2007), program studi yang ada di FKIP Unpas yang paling tua adalah PKn dan yang paling muda Pendidikan Matematika.
Masa Stabilitasi Dan Eksistansi (2002-2010)
Masa pengembangan, menghadirkan suatu perjalanan dimana FKIP Unpas mampu menjawab tantangan perkembangan jaman dalam merevitalisasi peran penting pendidikan, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memperluas jangkauan yang lebih jauh ke beberapa daerah selain Jawa Barat (sebagai gudang mahasiswa FKIP) bahkan berkiprah di tingkat nasional. Masa pengembangan ini diawali dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang berpihak kepada pendidikan dalam bergerak bersama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kebijakan yang dengan sadar diciptakan oleh pemerintah tersebut (yang memang merupakan keniscayaan jika suatu bangsa ingin maju), memberikan peluang yang terbuka lebar untuk FKIP. Bukan berarti perjalanan FKIP berjalan bebas hambatan, tetapi hal tersebut diperoleh melalui kerja keras disertai jatuh bangunnya dalam berkompetisi untuk mendapatkan kepercayaan dari pihak pemerintah, yang juga ditunjang oleh masing-masing program studi untuk mendapatkan pengakuan baik dimata masyarakat maupun dengan penilaian standar nasional yang terakrediatasi. Hal tersebut menjadikan FKIP Unpas sebagai ikon atau figur untuk menjadi universitas swasta yang dapat berperan serta aktif dalam memajukan pendidikan pencerdasan bangsa.
Pada masa ini tampuk kepemimpinan FKIP Unpas dijabat oleh Bapak Drs. H. Dadang Iskandar, M.Pd. dengan SK yang dikeluarkan oleh Yayasan Perguruan Tinggi (YPT) tahun 2002. Pada masa kepemimpinan beliau diawali dengan strategi pembentukan harmonisasi internal melalui program pertama dan baru yang ada di Unpas, FKIP Unpas mengawali dengan penyaluran dana rekreasi bersama yang dikonversi menjadi program wisata umrah. Pada saat pertama kali program umroh digulirkan, FKIP Unpas memberangkatkan 5 orang dosen dan 2 karyawan sebagai perwakilan dari FKIP Unpas agar dapat berdoa bersama di tanah suci, dengan tujuan agar keluarga besar FKIP Unpas dapat lebih baik secara kinerja serta eksistensinya di bidang pendidikan. Program ini terus menerus berlanjut dilaksanakan setiap tahunnya, dengan memberangkatkan minimal 7 orang dari FKIP. Bahkan pada tahun penulisan buku ini FKIP Unpas telah memberangkatkan 5 orang dosen, 4 orang karyawan dan 1 orang klining servis. Hal ini telah menjadi pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan oleh para anggota keluarga besar FKIP Unpas, termasuk Bapak Kindi yang menjadi pegawai klining servis pertama yang telah diberangkatkan umrah ke tanah suci mekah oleh FKIP Unpas. Program umroh ini sekarang mulai ditiru oleh Fakultas lain di Unpas, bahkan Unpas pusat sendiri menirunya.
Pada tahun penulisan buku ini merupakan akhir masa jabatan kepemimpinan Bapak Drs. H. Dadang Iskandar, M.Pd. (2002-2010) yang merupakan perjalanan panjang memimpin FKIP Unpas selama dua periode kepemimpinannya secara penuh, khususnya untuk program wisata umrah. Bapak Drs. H. Dadang Iskandar, M.Pd. di akhir kepemimpinannya merekomendasikan agar program wisata umrah ditambah dengan menghajikan 1 orang dosen dan 1 orang karyawan.
Strategi demi strategi pada setiap tahunnya diadaptasi untuk mengantisipasi berbagai kendala dan hambatan-hambatan lainnya dengan seksama, dan berbagai kebijakan internal lainnya telah menstimulus bagi seluruh keluarga besar FKIP untuk membuat suatu tim khusus dalam menghadapi berbagai tantangan eksternal. Hal ini ditunjukkan dengan melonjak pesatnya peminat dan yang diterima di FKIP Unpas, sehingga meningkat menjadi dua kali lipatnya. Sehingga pada tahun 2010 ini secara parsial penerimaan mahasiswa tiap Fakultas, FKIP merupakan penerima mahasiswa terbanyak di Unpas.
Fasilitas pendidikan yang merujuk kepada standar nasional serta peningkatan keprofesionalan para dosen dan karyawan yang didukung oleh kesejahteraan yang diberikan, telah mengukuhkan bahwa nama besar FKIP sekarang merupakan hasil kerja keras seluruh keluarga besar FKIP Unpas tanpa terkecuali.
Tantangan Eksternal. Adapun beberapa tantangan eksternal yang pernah dilakukan untuk dijawab diantaranya adalah mengikuti program hibah kompetisi bernama I-MHERE, untuk tahun 2004 dan 2005, para tim khusus belum menemukan pola bekerja dalam berkompetisi, sehingga untuk kedua program ini gagal. Program studi yang mengikuti program I-MHERE ini diantaranya Prodi Biologi, Matematika dan Pkn untuk tahun 2004. Untuk tahun 2005 Program Studi PKn, Pend Akuntansi dan Biologi. Hikmah dari kegagalan adalah pengalaman berharga yang telah memberikan semangat untuk lebih baik dalam menghadapi hibah kompetisi lainnya.
Pada tahun 2005 Prodi Pendidikan Matematika mencoba keberuntungannya untuk mengikuti hibah kompetisi bernama PHK A2, sangat disayangkan karena pengalaman para tim khusus dalam penilaian masih belum optimal, disamping kompetitor lainnya berasal dari seluruh universitas swasta dan negeri di seluruh Indonesia, maka kegagalan menimpa untuk kedua kalinya, teutama untuk Prodi Pendidikan Matematika. Namun pengalaman yang didapatinya itu dicoba kembali di tahun 2006, ternyata Prodi Pendidikan Matematika lolos dan memenangkan PHK A2 untuk tahun 2007 dan berakhir di tahun 2009. Sedangkan untuk Prodi Pendidikan Bahasa, sastra Indonesia, dan Daerah yang mengajukan PHK A-3, mengalami kegagalan. PHK A2 Prodi Pendidikan Matematika diketuai oleh Bapak Darta, S.Pd. M.Pd. Hibah ini merupakan terobosan dalam bidang pembelajaran dan efisiensi hasil pembelajaran. Dilandasi oleh faktor kekeluargaan yang sangat dinamis dan harmonis di FKIP Unpas, maka keterlibatan para dosen yang berasal dari luar Prodi Pendidikan Matematika di lingkungan FKIP Unpas tetap bahu membahu saling membantunya dalam pelaksanaan PHK A-2 tersebut. Dari pengalaman PHK A-2 inilah cikal bakal kepercayaan diri bagi para dosen muda di FKIP Unpas untuk tetap ikut serta berkompetisi memenangkan setiap hibah yang digulirkan Dikti dari tahun ke tahun. Bahkan iklim yang kondusif ini (tak dapat dipungkiri) tertular kepada dosen muda Unpas secara keseluruhan untuk ikut serta dalam memenangkan PHK-I pada tahun 2008 sampai dengan 2010, dengan dimotivasi oleh Bapak Dr. Cartono, M.Pd., M.T. yang notabene berasal dari FKIP Unpas.
Tahun 2007, berbekal pengalaman yang telah dipunyai, FKIP Unpas membentuk tim khusus gabungan dari masing-masing prodi, untuk mengikuti Hibah Kompetisi Laboratorium Microtaeching dan sistem PPL. Hibah laboratorium Micro teaching dan sistem PPL ini yang memotivasi dan melengkapi laboratorium microteaching yang canggih dan memenuhi standar minimal laboratorium. Melalui hibah ini kelengkapan di laboratorium micro teaching menjadi lab yang canggih.
Di tahun 2007 dan 2008 kiprah FKIP Unpas semakin tidak diragukan lagi baik lulusan, kinerja dosen, dan karyawan di mata masyarakat dan eksistensinya di mata pendidikan sehingga dapat bermitra bersama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam kegiatan sertifikasi guru dalam jabatan untuk rayon 10 yang bertanggung jawab untuk mensertifikasi profesional para guru-guru di tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA).
Pada tahun 2007, FKIP Unpas mencoba membaca peluang perkembangan jaman dengan mendirikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) untuk Jenjang S1 dengan SK dari Dirjen Dikti Depdiknas RI yang dikeluarkan pada tanggal 19 Juli 2007. Pendirian prodi ini untuk tahun pertama langsung mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat dengan jumlah mahasiswa untuk angkatan pertama sejumlah kurang lebih 200 mahasiswa. Kebijakan ini sangat tepat diambil oleh Dekan FKIP, karena ternyata pengguna lulusan PGSD memiliki peluang yang paling banyak dibandingkan dengan jurusan-jurusan lainnya. Hal ini dapat dipahami, karena Sekolah Dasar memiliki jumlah yang sangat banyak, dibandingkan dengan SMP dan SMA.
Pada tahun 2008, pemerintah membuka peluang kepada LPTK yang merupakan mitra UPI untuk menjadi LPTK mandiri dalam penyelenggaraan Sertifikasi Guru, supaya program sertifikasi guru selesai pada waktu yang telah ditetapkan yakni pada tahun 2014. Melihat peluang tersebut Dekan FKIP Unpas mengambil sikap untuk bertindak cepat menjemput kebijakan tersebut, hal ini tidak lepas dari peranan para tim khusus yang di tunjang dari dari para dosen lainnya dan para karyawan yang berfikiran positif dalam membantu pemerintah dalam mewujudkan eksistensi FKIP Unpas didunia pendidikan. Tim khusus berperan secara konsisten untuk terus menemukan rumusan awal yang berasal dari satu kata, dan kemudian terhimpun menjadi suatu kalimat yang pada akhirnya dapat tercurahkan buah pemikiran idealisme FKIP Unpas dalam eksistensi serta pencitraannya agar dapat dipercaya untuk dapat menyelenggarakan sertifikasi guru dalam jabatan secara mandiri.
Dalam seloroh tersebut mencitrakan bahwa siapapun yang mengawalinya harus dengan sungguh-sungguh bersabar dalam berusaha, bahkan kami terpaksa harus meninggalkan keluarga dan kepentingan lainnya berminggu-minggu agar hidangan kami dapat dinikmati bersama, namun besar harapan kami dari para tim khusus ini agar setelah menjadi hidangan harus menjadi tanggung jawab bersama, baik dan tertib dalam pengadministrasian, penyajian yang bertujuan untuk bersama dalam menjaga nama baik yang besar dari FKIP Unpas sebagai lembaga profesional dilingkungan pendidikan nasional Indonesia.
Tim khusus dimaksud adalah Para Pembantu Dekan, Bapak Uus Toharudin, Bapak Dr. Cartono sebagai perwakilan dari Prodi Biologi, Bapak Dr. Sri Marten Yogaswara, Bapak Jaka Permana, Bapak Firman sebagai perwakilan dari Prodi Ekonomi Akuntansi, Bapak Darta, Bapak Beni Yusepa, Bapak Subaryo sebagai perwakilan dari Prodi Matematika, Bapak Elan, Bapak Riza Alrakhman sebagai perwakilan dari Prodi PPKn dan Bapak Dikdik permadi sebagai perwakilan karyawan yang selalu mendampingi kami dalam bentuk perhatian konsumsi yang selalu disediakan beserta kebersihan dan keamanan selama kami melaksanakan kewajiban kami mengikuti berbagai kegiatan atau program hibah untuk FKIP Unpas dan tentunya masih banyak lagi pihak-pihak yang terkait yang tidak mungkin dituliskan disini seluruhnya. Atas pertimbangan dari pihak kementirian pendidikan RI, pada akhirnya FKIP Unpas dipercaya sebagai penyelenggara sertifikasi guru dalam jabatan untuk 6 kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat, yaitu: Kota Cimahi, Kab. Bandung Barat, Kab. Subang, Kab, Purwakarta, Kab. Karawang, Kab. Cianjur.
Keputusan pemerintah menunjuk Unpas sebagai Rayon 34 untuk menyelenggarakan program sertifikasi guru dalam jabatan sampai tahun 2014, kepercayaan ini sangat membutuhkan perhatian yang fokus dan loyalitas tinggi dalam menjalankannya. Oleh karena itu, FKIP Unpas bertekad untuk terus secara konsisten menyelenggarakan sertifikasi guru sebaik-baiknya, agar pada tahun-tahun mendatang ketika dievaluasi oleh Dikti, Unpas mendapatkan kepercayaan penuh lagi. Selain itu, pada tahun 2009 kepercayaan serta eksistensi dari FKIP Unpas dari pemerintah semakin bertambah dengan dipercaya untuk menyelengarakan PPKHB, yaitu Pengakuan Pengalaman Kerja dan Hasil Belajar yang berubah nama menjadi PKJB.
Tahun 2010 FKIP Unpas bertambah perannya dengan dipercayanya PGSD sebagai Program Studi yang menyelenggarakan Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk beberapa wilayah di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. Disdarari atau tidak, ke depan justru program PPG inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para calon mahasiswa. Karena dengan adanya PPG calon mahasiswa dapat langsung melanjutkan studinya setelah selesai S-1nya.
Atas berbagai ketercapaian dari segi prestasi sampai dengan pengalaman jatuh bangunnya siapa pun kita, maka telah mengukuhkan suatu kesimpulan bahwa tiada masa ini tanpa adanya masa lalu, dan tidak akan pernah ada masa depan apabila kita tidak berbuat sesuatu sedikit pun dimasa sekarang untuk sesuatu yang kita yakini demi masa depan. Semoga kiprah kita ke depan dapat membuahkan hasil maksimal untuk tetap konsisten dalam usaha mencerdaskan anak bangsa.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) merupakan salah satu Fakultas tertua --disamping Fakultas Hukum-- di lingkungan Universitas Pasundan. Didirikan pada tanggan 14 Nopember 1960 seiring dengan berdirinya Universitas Pasoendan yang pada saat itu bernaung dibawah Yayasan Universitas Pasoendan berdasarkan Akta Notaris Mr. Tan Eng Kiam No. 4 Tanggal 14 Nopember 1960 sebagaimana telah dirubah berdasarkan Akta Notaris Komar Andasasmita No. 39 Tanggal 24 Maret 1967.
Yayasan Universitas Pasoendan sekarang telah berganti nama menjadi Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan (YPTP) dan berada dibawah naungan Paguyuban Pasundan. Berdirinya FISIP dan fakultas-fakultas lain dalam lingkungan Universitas Pasundan secara keseluruhan tidak lepas dari tujuan dan cita-cita Paguyuban Pasundan sebagai induk organisasi yang didirikan pada tahun 1914. Paguyuban Pasundan sebagai organisasi etno-nasionalisme tertua dan terbesar di Indonesia dalam bidang garapannya memang lebih menekankan pada pengabdian pendidikan dalam upaya turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Sampai tahun 2003, Paguyuban Pasundan telah menaungi 4 Perguruan Tinggi (Universitas Pasundan, STKIP Pasundan, STH Pasundan, dan STIE Pasundan), dan menaungi kurang lebih 80 unit SLTA/SLTP yang tersebar di Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.
Masa Rintisan (1978-1992)
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pasundan yang seterusnya disingkat menjadi FKIP Unpas didirikan sejak tahun 1978 setelah beberapa fakultas lainnya seperti Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Hukum (FH), Fakultas Teknik (FT), dan Fakultas Ekonomi (FE) dengan beberapa Program Studi di dalamnya telah lebih dahulu menjadi bagian dari fakultas-fakultas yang ada di lingkungan Unpas. FKIP Unpas didirikan sebagai realisasi dari amanat Kongres Paguyuban Pasundan ke-34 pada tanggal 13 Oktober tahun 1975 di Bogor tentang perlunya membentuk panitia persiapan pendirian IKIP Pasundan di Bandung. Berdasarkan masukan serta berbagai pertimbangan bahwa untuk wilayah Jawa Barat dan Banten (ketika itu Provinsi Banten masih menjadi bagian dari Jawa Barat), masih banyak sekolah yang dirasakan kekurangan tenaga pengajar (guru) pada pendidikan formal baik untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Setelah kurang lebih tiga tahun, para panitia pendirian IKIP Pasundan yang sebagian besar merupakan para pengurus Yayasan Pendidikan Pasundan (YPP) melakukan studi kelayakan, menganalisis kebutuhan tenaga guru, diskusi dan konsultasi dengan beberapa pakar dibidang pendidikan, pada akhirnya bersepakat untuk mengajukan usulan pendirian IKIP Pasundan ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). Usulan pendirian dengan terlebih dahulu meminta pertimbangan kepada Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) di Jakarta dan IKIP Pasundan menjadi bagian fakultas saja di Lingkungan Universitas Pasundan dengan nama Fakuktas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di singkat menjadi FKIP Unpas. Selama tiga tahun terlalui pada akhirnya YPP mendapatkan Surat Keputusan Pendirian FKIP Unpas pada tanggal 20 Januari 1978 dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depdikbud RI, dan Mr. Oesadi, S.H., yang juga pernah menjadi Rektor Unpas pada periode 1971-1981, bertanggung jawab sebagai Dekan FKIP Unpas pertama berdasarkan SK. yang keluarkan oleh YPP.
Di awal perintisannya, FKIP Unpas hanya membuka satu Jurusan yaitu Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan dua konsentrasi/ Program Studi yaitu Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum, serta Program Studi Ekonomi dan Akuntansi. Seiring dengan berjalannya waktu serta merespon dinamika perkembangan yang terjadi di masyarakat, pada masa ini juga dibuka Program Studi baru lainnya yaitu program studi Ekonomi Perusahaan (Ekper), Program Studi Ekonomi Umum (Ekum) dan Program Studi Administrasi Pendidikan (Adpen).
Empat tahun terlalui sebagai masa perintisan yang sulit dan penuh dengan tantangan, kepemimpinan FKIP Unpas yang diamantkan kepada Bapak Oesadi, S.H. (1978-1981) akhirnya berakhir. Estapet kepemimpinan FKIP Unpas kemudian dilanjutkan kepada Bapak Drs. H.S. Maman Sudyaatmadja. Pada masa kepemimpinan beliau Program Studi yang yang ada di lingkungan FKIP Unpas secara resmi mendapatkan Surat Keputusan menganai izin pendirian dan penyelenggaraan dari Mendikbud RI. Program studi Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum (PKnH) disahkan dalam SK sebagai Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN). Begitu pula halnya dengan Program Studi lainnya yang diusulkan setelah Dirjen Dikti melakukan evaluasi dan monitoring terhadap kelayakan bagi Program Studi, akhirnya Mendikbud RI menyetujui dan mensahkan untuk Program Studi Pendidikan Ekonomi Akuntansi FKIP Unpas.
Secara nasional ketika itu dinamika perkembangan dan fluktuasi minat masyarakat untuk masuk ke Perguruan Tinggi, khususnya program studi penyelenggara pencetak calon guru masih sangat rendah di bandingkan dengan program studi lainnya. Calon mahasiswa di FKIP Unpas khususnya dan LPTK pada umumnya mengalami penurunan. Hal tersebut sudah barang tentu menjadi masalah dan memerlukan pemikiran yang serius bagi para perintis dalam menghadapi situasi tersebut sehingga tetap bias bertahan di tengah-tengah suasana sulit itu. Di lingkungan Unpas sendiri jumlah mahasiswa FKIP Unpas paling sedikit di bandingkan dengan fakultas lainnya. Karena terjadi perbedaan yang signifikan untuk jumlah peserta dibandingkan dengan fakultas lain di lingkungan Unpas, maka pada masa kepemimpinan Bapak Drs. H.S. Maman Sudyaatmadja FKIP mencoba mengusulkan pendirian program studi baru untuk mengakomodir dan memberikan banyak alternatif pilihan bagi masyarakat yaitu Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (BI), Jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) dengan dua Program Studi yakni, Program Studi Pendidikan Matematika dan Program Studi Pendidikan Biologi, Serta Jurusan Bimbingan Penyuluhan (BP).
Hasil dari kerja keras tim pendirian untuk beberapa program studi pada akhirnya membuahkan hasil dan tanggapan yang positif dari Mendikbud dan masyarakat, hal tersebut terbukti dengan jumlah peminat dari para mahasiswa yang melonjak bertambah banyak setiap tahunnya. Hal tersebut dipengaruhi dengan ditunjangnya dari SK. yang dikeluarkan oleh Mendikbud sebagai legitimasi yang sah di mata masyarakat yakni untuk Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di-SK-kan pada tanggal 10 Mei 1982, kemudian untuk Program Studi Pendidikan Matematika pada tahun 1985, dan Program Studi Pendidikan Biologi tanggal 5 Oktober 1985, menjadi bagian dari program studi FKIP Unpas, dan pada akhir tahun 1987 FKIP Unpas mempersiapkan diri untuk menempati tempat baru yang bertampat di Jalan Tamansari no. 6 Bandung (FKIP Unpas sekarang).
Empat tahun berlalu sudah untuk kepengurusan Bapak Drs. H.S. Maman Sudyaatmadja (1989-1992), melalui aktifitas pemilihan Dekan yang berdasarkan ketentuan YPP yang harus dilaksanakan secara adil, rahasia dan terbuka. Berdasarkan SK yayasan pada tanggal 10 Nopember 1989, kepemimpinan FKIP Unpas dipercayakan kepada Bapak Drs. H. Memed Erawan. Pada kepemimpinan beliau FKIP Unpas berjalan sebagai rintisan dalam menciptakan kepercayaan terhadap masyarakat dengan memproyeksikan agar lulusan FKIP Unpas dapat unggul dalam berkompetisi dengan lulusan-lulusan FKIP atau IKIP dari Perguruan Tinggi lainnya, hal tersebut ditunjukkan dengan pelaksanaan aktivitas lapangan berupa penelitian dan pengabdian masyarakat pada beberapa daerah di wilayah Jawa Barat. Pada masa kepemimpinan Bapak Drs. H. Memed Erawan berakhir (1989-1992) yang saat itu FKIP Unpas telah bertempat tinggal secara tetap di Jalan Tamansari berjalan dinamis mengikuti perkembangan dan menangkap berbagai peluang yang dapat menunjang FKIP Unpas yang dapat disebut sebagai masa perintisan bagi FKIP Unpas. Hal ini terumuskan dari hasil wawancara secara triangulasi dari para pakar dan para pendiri FKIP Unpas.
Masa Pengembangan (1992-2002)
Masa pengembangan, merupakan masa dimana peranan masyarakat memantau FKIP Unpas sebagai ikon atau figur sebagai contoh universitas swasta yang dapat bergerak secara masif dan bertahan dengan peranan para alumni, baik angkatan pertama maupun angkatan-angkatan berikutnya untuk dapat mendorong FKIP Unpas agar menjadi lebih baik di mata masyarakat. FKIP Unpas telah dipimpin oleh beberapa pemimpin yang memiliki idealisme dan loyalitas tinggi, pada saat kepemimpinan Bapak Drs. H. Memed Erawan berakhir, kepemimpinannya dilanjutkan oleh Bapak Drs. H.M. Didi Turmudzi, M.Si., yang pada saat pembuatan buku sejarah ini (2010) sedang menjabat sebagai Rektor Unpas, yang tertuang dalam SK yang dikeluarkan oleh Yayasan Perguruan Tinggi (YPT) tanggal 17 Nopember 1992, (YPP berubah menjadi YPT).
Masa kepemimpinan beliau tidak sampai akhir masa jabatan yang telah ditentukan oleh YPT, hal tersebut disebabkan oleh kinerna beliau yang baik sehingga sangat dibutuhkan untuk memegang tanggung jawab sebagai Pembantu Rektor III (bidang kemahasiswaan dan alumni) Unpas. Pada masa ini terdapat berbagai permasalahan yang diakibatkan oleh kebijakan pemerintah pendidikan yang mempengaruhi khususnya untuk program studi PPKn, yaitu terjadi kekurangan peminat bagi mahasiswa PPKn sampai pada satu waktu hanya tersisa 14 orang mahasiswa. Kebijakan pemerintah yang merugikan tersebut adalah penghilangan mata pelajaran PKn untuk tingkat pendidikan di sekolah.
Permasalahan tersebut tidak membuat para dosen PPKn dan pihak FKIP putus asa dalam membina program studi PPKn ini. Semua menyepakati termasuk didalamnya bapak Dr. Idrus Affandi. S.H. (sekarang telah menjadi Pembantu Rektor II di Universitas Pendidikan Indonesia), Bapak Drs. Atim Suparman, M.Pd. beserta para alumni lainnya yang menjadi bagian dari FKIP Unpas untuk melakukan berbagai strategi alternatif promosi sebagai program studi pertama. Seiring dengan perkembangan waktu, pada akhirnya kebijakan pemerintah kembali berpihak pada program studi PPKn yang ada di Indonesia.
Setelah kepemimpinan Bapak Drs. H.M. Didi Turmudzi, M.Si. (1992-1995), sebagai Dekan FKIP Unpas kemudian dilanjutkan oleh Bapak Drs. H. Atim Suparman, M.Pd. berdasarkan SK YPT pada tanggal 17 Nopember 1995. Pada kepemimpinan Bapak Drs. H. Atim Suparman, M.Pd., FKIP Unpas mengalami lonjakan peminat sebagai mahasiswa untuk beberapa program studi. Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, dilakukan pengajuan pengangkatan dosen yayasan untuk beberapa program studi, perbaikan serta pembuatan fasilitas pendukung dalam menunjang beberapa matakuliah pengembangan keterampilan, seperti: pembuatan lab bahasa, lab komputer, dan beberapa ruangan pendukung untuk beberapa program studi dalam upaya peningkatan keterampilan dan kreatifitas bagi para mahasiswa. Hal tersebut merupakan usaha mengembangkan FKIP Unpas untuk mencari alternatif pemencahan masalah yang dihadapi pada masa kepemiminan Bapak Drs. Atim Suparman, M.Pd. Selain itu, FKIP Unpas pada masa ini juga membidani pendirian dua Program Studi baru yaitu: Sastra Inggris dan Seni Musik yang merupakan cikal bakal berdirinya Fakultas Ilmu Seni dan Sastra (sekarang FISS Unpas).
Keberhasilan FKIP Unpas juga mendapat respon positif dari pihak pemerintah yaitu FKIP dipercaya untuk melaksanakan Pelatihan Guru Tetap Yayasan dan Dpk bagi guru SLTP Swasta tahun 1997, yang dilaksanakan setiap hari Jumat, Sabtu dan minggu selama tiga bulan . Kegiatan ini ketua pelaksananya adalah Bapak Drs. Sri Marten Yogaswara yang dukung oleh Bapak Darta, S.Pd., Bapak Drs. Deni Hermaen, Bapak Drs. Jaka Permana, dan Ibu Dra. Ani Budiarti.
Pada tahun 2000 FKIP Unpas mengelola anggaran dari provinsi untuk proyek Peningkatan Guru Inti Tambahan terkait dengan LEC Jawa Barat, yang dilaksanakan selama 3 bulan di empat Kabupaten yang berbeda yaitu: Cimahi, Kabupeten Bandung (Kec. Arjasari dan Kec. Cicalengka), dan Kabupaten Garut. Pada kegiatan ini yang menjadi ketua adalah Bapak Drs. Bambang Heru P, M.S yang di dampingi oleh Bapak Drs. Uus Toharudin, Bapak Darta, S.Pd., Bapak Cartono S.Pd., M.Pd., M.T., Bapak Drs. Azis Lukman Praja, Bapak Drs Toto Sutarto Gani Utari, M.Pd, Bapak Drs. Sri Marten Yogaswara, dan Bapak Drs. Musadad Abdul Azis, dengan penasehat Bapak Drs. Dadang Iskandar, Bapak Drs. Dadang Mulyana, M.Si (pada saat buku ini ditulis beliau telah menjadi Dekan FKIP Unpas terpilih) serta Bapak Drs. Atim suparman, M.Pd., sebagai penanggung jawab kegiatan. Hasil dari terlaksananya kepercayaan dari kedua kegiatan tersebut, menjadikan embrio dalam peningkatan rasa percaya diri bahwa FKIP Unpas mampu berkompetisi dengan kompetitor universitas lainnya baik swasta maupun negeri.
Masa ini merupakan masa pengembangan eksistensi FKIP Unpas di mata masyarakat melalui pemantauan langsung dari perwakilan struktur pemerintah yang ada di provinsi Jawa Barat. Masa kepemimpinan Bapak Drs. Atim suparman, M.Pd berakhir selama dua periode kepemimpinan (1995-2002), yang kemudian pada masa ini kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah mengenai pendidikan mulai mengarah keberpihakannya terhadap peluang FKIP Unpas untuk masa pengembangan berikutnya.
Pada masa ini FKIP mulai memantapkan dirinya dengan terus menerus mengembangkan lima Program Studi yang ada, yaitu Program Studi: PKn, Pendidikan Ekonomi Akuntansi, Pendidikan Bahsasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Pendidikan Biologi, dan Pendidikan Matematika. Begitu seterusnya sampai sekarang penyebutan Program Studi di lingkungan FKIP Unpas berdasarkan kurun waktu pendirian program studi tersebut. Sehingga jika didasarkan pada izin pendiriannya (sampai dengan tahun 2007), program studi yang ada di FKIP Unpas yang paling tua adalah PKn dan yang paling muda Pendidikan Matematika.
Masa Stabilitasi Dan Eksistansi (2002-2010)
Masa pengembangan, menghadirkan suatu perjalanan dimana FKIP Unpas mampu menjawab tantangan perkembangan jaman dalam merevitalisasi peran penting pendidikan, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memperluas jangkauan yang lebih jauh ke beberapa daerah selain Jawa Barat (sebagai gudang mahasiswa FKIP) bahkan berkiprah di tingkat nasional. Masa pengembangan ini diawali dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang berpihak kepada pendidikan dalam bergerak bersama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kebijakan yang dengan sadar diciptakan oleh pemerintah tersebut (yang memang merupakan keniscayaan jika suatu bangsa ingin maju), memberikan peluang yang terbuka lebar untuk FKIP. Bukan berarti perjalanan FKIP berjalan bebas hambatan, tetapi hal tersebut diperoleh melalui kerja keras disertai jatuh bangunnya dalam berkompetisi untuk mendapatkan kepercayaan dari pihak pemerintah, yang juga ditunjang oleh masing-masing program studi untuk mendapatkan pengakuan baik dimata masyarakat maupun dengan penilaian standar nasional yang terakrediatasi. Hal tersebut menjadikan FKIP Unpas sebagai ikon atau figur untuk menjadi universitas swasta yang dapat berperan serta aktif dalam memajukan pendidikan pencerdasan bangsa.
Pada masa ini tampuk kepemimpinan FKIP Unpas dijabat oleh Bapak Drs. H. Dadang Iskandar, M.Pd. dengan SK yang dikeluarkan oleh Yayasan Perguruan Tinggi (YPT) tahun 2002. Pada masa kepemimpinan beliau diawali dengan strategi pembentukan harmonisasi internal melalui program pertama dan baru yang ada di Unpas, FKIP Unpas mengawali dengan penyaluran dana rekreasi bersama yang dikonversi menjadi program wisata umrah. Pada saat pertama kali program umroh digulirkan, FKIP Unpas memberangkatkan 5 orang dosen dan 2 karyawan sebagai perwakilan dari FKIP Unpas agar dapat berdoa bersama di tanah suci, dengan tujuan agar keluarga besar FKIP Unpas dapat lebih baik secara kinerja serta eksistensinya di bidang pendidikan. Program ini terus menerus berlanjut dilaksanakan setiap tahunnya, dengan memberangkatkan minimal 7 orang dari FKIP. Bahkan pada tahun penulisan buku ini FKIP Unpas telah memberangkatkan 5 orang dosen, 4 orang karyawan dan 1 orang klining servis. Hal ini telah menjadi pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan oleh para anggota keluarga besar FKIP Unpas, termasuk Bapak Kindi yang menjadi pegawai klining servis pertama yang telah diberangkatkan umrah ke tanah suci mekah oleh FKIP Unpas. Program umroh ini sekarang mulai ditiru oleh Fakultas lain di Unpas, bahkan Unpas pusat sendiri menirunya.
Pada tahun penulisan buku ini merupakan akhir masa jabatan kepemimpinan Bapak Drs. H. Dadang Iskandar, M.Pd. (2002-2010) yang merupakan perjalanan panjang memimpin FKIP Unpas selama dua periode kepemimpinannya secara penuh, khususnya untuk program wisata umrah. Bapak Drs. H. Dadang Iskandar, M.Pd. di akhir kepemimpinannya merekomendasikan agar program wisata umrah ditambah dengan menghajikan 1 orang dosen dan 1 orang karyawan.

Strategi demi strategi pada setiap tahunnya diadaptasi untuk mengantisipasi berbagai kendala dan hambatan-hambatan lainnya dengan seksama, dan berbagai kebijakan internal lainnya telah menstimulus bagi seluruh keluarga besar FKIP untuk membuat suatu tim khusus dalam menghadapi berbagai tantangan eksternal. Hal ini ditunjukkan dengan melonjak pesatnya peminat dan yang diterima di FKIP Unpas, sehingga meningkat menjadi dua kali lipatnya. Sehingga pada tahun 2010 ini secara parsial penerimaan mahasiswa tiap Fakultas, FKIP merupakan penerima mahasiswa terbanyak di Unpas.
Fasilitas pendidikan yang merujuk kepada standar nasional serta peningkatan keprofesionalan para dosen dan karyawan yang didukung oleh kesejahteraan yang diberikan, telah mengukuhkan bahwa nama besar FKIP sekarang merupakan hasil kerja keras seluruh keluarga besar FKIP Unpas tanpa terkecuali.
Tantangan Eksternal. Adapun beberapa tantangan eksternal yang pernah dilakukan untuk dijawab diantaranya adalah mengikuti program hibah kompetisi bernama I-MHERE, untuk tahun 2004 dan 2005, para tim khusus belum menemukan pola bekerja dalam berkompetisi, sehingga untuk kedua program ini gagal. Program studi yang mengikuti program I-MHERE ini diantaranya Prodi Biologi, Matematika dan Pkn untuk tahun 2004. Untuk tahun 2005 Program Studi PKn, Pend Akuntansi dan Biologi. Hikmah dari kegagalan adalah pengalaman berharga yang telah memberikan semangat untuk lebih baik dalam menghadapi hibah kompetisi lainnya.
Pada tahun 2005 Prodi Pendidikan Matematika mencoba keberuntungannya untuk mengikuti hibah kompetisi bernama PHK A2, sangat disayangkan karena pengalaman para tim khusus dalam penilaian masih belum optimal, disamping kompetitor lainnya berasal dari seluruh universitas swasta dan negeri di seluruh Indonesia, maka kegagalan menimpa untuk kedua kalinya, teutama untuk Prodi Pendidikan Matematika. Namun pengalaman yang didapatinya itu dicoba kembali di tahun 2006, ternyata Prodi Pendidikan Matematika lolos dan memenangkan PHK A2 untuk tahun 2007 dan berakhir di tahun 2009. Sedangkan untuk Prodi Pendidikan Bahasa, sastra Indonesia, dan Daerah yang mengajukan PHK A-3, mengalami kegagalan. PHK A2 Prodi Pendidikan Matematika diketuai oleh Bapak Darta, S.Pd. M.Pd. Hibah ini merupakan terobosan dalam bidang pembelajaran dan efisiensi hasil pembelajaran. Dilandasi oleh faktor kekeluargaan yang sangat dinamis dan harmonis di FKIP Unpas, maka keterlibatan para dosen yang berasal dari luar Prodi Pendidikan Matematika di lingkungan FKIP Unpas tetap bahu membahu saling membantunya dalam pelaksanaan PHK A-2 tersebut. Dari pengalaman PHK A-2 inilah cikal bakal kepercayaan diri bagi para dosen muda di FKIP Unpas untuk tetap ikut serta berkompetisi memenangkan setiap hibah yang digulirkan Dikti dari tahun ke tahun. Bahkan iklim yang kondusif ini (tak dapat dipungkiri) tertular kepada dosen muda Unpas secara keseluruhan untuk ikut serta dalam memenangkan PHK-I pada tahun 2008 sampai dengan 2010, dengan dimotivasi oleh Bapak Dr. Cartono, M.Pd., M.T. yang notabene berasal dari FKIP Unpas.
Tahun 2007, berbekal pengalaman yang telah dipunyai, FKIP Unpas membentuk tim khusus gabungan dari masing-masing prodi, untuk mengikuti Hibah Kompetisi Laboratorium Microtaeching dan sistem PPL. Hibah laboratorium Micro teaching dan sistem PPL ini yang memotivasi dan melengkapi laboratorium microteaching yang canggih dan memenuhi standar minimal laboratorium. Melalui hibah ini kelengkapan di laboratorium micro teaching menjadi lab yang canggih.
Di tahun 2007 dan 2008 kiprah FKIP Unpas semakin tidak diragukan lagi baik lulusan, kinerja dosen, dan karyawan di mata masyarakat dan eksistensinya di mata pendidikan sehingga dapat bermitra bersama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam kegiatan sertifikasi guru dalam jabatan untuk rayon 10 yang bertanggung jawab untuk mensertifikasi profesional para guru-guru di tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA).
Pada tahun 2007, FKIP Unpas mencoba membaca peluang perkembangan jaman dengan mendirikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) untuk Jenjang S1 dengan SK dari Dirjen Dikti Depdiknas RI yang dikeluarkan pada tanggal 19 Juli 2007. Pendirian prodi ini untuk tahun pertama langsung mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat dengan jumlah mahasiswa untuk angkatan pertama sejumlah kurang lebih 200 mahasiswa. Kebijakan ini sangat tepat diambil oleh Dekan FKIP, karena ternyata pengguna lulusan PGSD memiliki peluang yang paling banyak dibandingkan dengan jurusan-jurusan lainnya. Hal ini dapat dipahami, karena Sekolah Dasar memiliki jumlah yang sangat banyak, dibandingkan dengan SMP dan SMA.
Pada tahun 2008, pemerintah membuka peluang kepada LPTK yang merupakan mitra UPI untuk menjadi LPTK mandiri dalam penyelenggaraan Sertifikasi Guru, supaya program sertifikasi guru selesai pada waktu yang telah ditetapkan yakni pada tahun 2014. Melihat peluang tersebut Dekan FKIP Unpas mengambil sikap untuk bertindak cepat menjemput kebijakan tersebut, hal ini tidak lepas dari peranan para tim khusus yang di tunjang dari dari para dosen lainnya dan para karyawan yang berfikiran positif dalam membantu pemerintah dalam mewujudkan eksistensi FKIP Unpas didunia pendidikan. Tim khusus berperan secara konsisten untuk terus menemukan rumusan awal yang berasal dari satu kata, dan kemudian terhimpun menjadi suatu kalimat yang pada akhirnya dapat tercurahkan buah pemikiran idealisme FKIP Unpas dalam eksistensi serta pencitraannya agar dapat dipercaya untuk dapat menyelenggarakan sertifikasi guru dalam jabatan secara mandiri.
Dalam seloroh tersebut mencitrakan bahwa siapapun yang mengawalinya harus dengan sungguh-sungguh bersabar dalam berusaha, bahkan kami terpaksa harus meninggalkan keluarga dan kepentingan lainnya berminggu-minggu agar hidangan kami dapat dinikmati bersama, namun besar harapan kami dari para tim khusus ini agar setelah menjadi hidangan harus menjadi tanggung jawab bersama, baik dan tertib dalam pengadministrasian, penyajian yang bertujuan untuk bersama dalam menjaga nama baik yang besar dari FKIP Unpas sebagai lembaga profesional dilingkungan pendidikan nasional Indonesia.
Tim khusus dimaksud adalah Para Pembantu Dekan, Bapak Uus Toharudin, Bapak Dr. Cartono sebagai perwakilan dari Prodi Biologi, Bapak Dr. Sri Marten Yogaswara, Bapak Jaka Permana, Bapak Firman sebagai perwakilan dari Prodi Ekonomi Akuntansi, Bapak Darta, Bapak Beni Yusepa, Bapak Subaryo sebagai perwakilan dari Prodi Matematika, Bapak Elan, Bapak Riza Alrakhman sebagai perwakilan dari Prodi PPKn dan Bapak Dikdik permadi sebagai perwakilan karyawan yang selalu mendampingi kami dalam bentuk perhatian konsumsi yang selalu disediakan beserta kebersihan dan keamanan selama kami melaksanakan kewajiban kami mengikuti berbagai kegiatan atau program hibah untuk FKIP Unpas dan tentunya masih banyak lagi pihak-pihak yang terkait yang tidak mungkin dituliskan disini seluruhnya. Atas pertimbangan dari pihak kementirian pendidikan RI, pada akhirnya FKIP Unpas dipercaya sebagai penyelenggara sertifikasi guru dalam jabatan untuk 6 kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat, yaitu: Kota Cimahi, Kab. Bandung Barat, Kab. Subang, Kab, Purwakarta, Kab. Karawang, Kab. Cianjur.
Keputusan pemerintah menunjuk Unpas sebagai Rayon 34 untuk menyelenggarakan program sertifikasi guru dalam jabatan sampai tahun 2014, kepercayaan ini sangat membutuhkan perhatian yang fokus dan loyalitas tinggi dalam menjalankannya. Oleh karena itu, FKIP Unpas bertekad untuk terus secara konsisten menyelenggarakan sertifikasi guru sebaik-baiknya, agar pada tahun-tahun mendatang ketika dievaluasi oleh Dikti, Unpas mendapatkan kepercayaan penuh lagi. Selain itu, pada tahun 2009 kepercayaan serta eksistensi dari FKIP Unpas dari pemerintah semakin bertambah dengan dipercaya untuk menyelengarakan PPKHB, yaitu Pengakuan Pengalaman Kerja dan Hasil Belajar yang berubah nama menjadi PKJB.
Tahun 2010 FKIP Unpas bertambah perannya dengan dipercayanya PGSD sebagai Program Studi yang menyelenggarakan Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk beberapa wilayah di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. Disdarari atau tidak, ke depan justru program PPG inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para calon mahasiswa. Karena dengan adanya PPG calon mahasiswa dapat langsung melanjutkan studinya setelah selesai S-1nya.
Atas berbagai ketercapaian dari segi prestasi sampai dengan pengalaman jatuh bangunnya siapa pun kita, maka telah mengukuhkan suatu kesimpulan bahwa tiada masa ini tanpa adanya masa lalu, dan tidak akan pernah ada masa depan apabila kita tidak berbuat sesuatu sedikit pun dimasa sekarang untuk sesuatu yang kita yakini demi masa depan. Semoga kiprah kita ke depan dapat membuahkan hasil maksimal untuk tetap konsisten dalam usaha mencerdaskan anak bangsa.
sumber : http://fkip.unpas.ac.id/about-us/sejarah-fkip-unpas/
A.Sejarah Gedung Sate
Sejarah berdirinya Gedung Sate di Bandung terjadi sebelum 27 Juli 1920, dimana gedung yang dulu memiliki nama Gouvernemens Bedrijven (GB) ini selesai dirancang cetak birunya oleh sebuah tim yang beranggotakan Ir. J. Gerber, Ir. G. Hendriks, dan Ir. Eh. De Roo. Rancangan cetak biru gedung GB ini juga melibatkan Gementee (walikota) Bandung yang pada masa itu dengan Kol.Pur. VL. Slors sebagai ketua mereka. Untuk membangun gedung GB ini dibutuhkan 2.000 orang pekerja, dimana 150 diantaranya merupakan orang Tiongkok dan bertugas sebagai pengukir kayu atau pemahat batu. Dari sisa 1.850 pekerja, hampir seluruhnya pernah memiliki pengalaman membangun gedung penting karena mereka pernah bekerja dalam pembangunan Gedong Sirap (ITB) dan Gedong Papak.
B.Perjalanan Gedung Sate Di Zaman Belanda
Sejarah berdirinya Gedung Sate di Bandung mulai tercatat ketika batu pertama diletakkan pada tanggal 27 Juli 1920. Peletakkan batu pertama ini dilakukan oleh Johanna Catherina Coops, putri sulung dari Walikota Bandung saat itu, B. Coops, bersama dengan Petronella Roelefsen yang menjadi wakil Gubernur Jendral J.P Graaf Van Limburg Stirum. Pembangunan gedung yang bertujuan untuk dijadikan pusat pemerintahan Belanda ini memilih kota Bandung sebagai ibu kota karena menurut mereka, iklim kota Bandung pada masa itu mirip dengan iklim yang ada di Perancis Selatan kala musim panas tiba.
Sejarah berdirinya Gedung Sate di Bandung terjadi sebelum 27 Juli 1920, dimana gedung yang dulu memiliki nama Gouvernemens Bedrijven (GB) ini selesai dirancang cetak birunya oleh sebuah tim yang beranggotakan Ir. J. Gerber, Ir. G. Hendriks, dan Ir. Eh. De Roo. Rancangan cetak biru gedung GB ini juga melibatkan Gementee (walikota) Bandung yang pada masa itu dengan Kol.Pur. VL. Slors sebagai ketua mereka. Untuk membangun gedung GB ini dibutuhkan 2.000 orang pekerja, dimana 150 diantaranya merupakan orang Tiongkok dan bertugas sebagai pengukir kayu atau pemahat batu. Dari sisa 1.850 pekerja, hampir seluruhnya pernah memiliki pengalaman membangun gedung penting karena mereka pernah bekerja dalam pembangunan Gedong Sirap (ITB) dan Gedong Papak.
B.Perjalanan Gedung Sate Di Zaman Belanda
Sejarah berdirinya Gedung Sate di Bandung mulai tercatat ketika batu pertama diletakkan pada tanggal 27 Juli 1920. Peletakkan batu pertama ini dilakukan oleh Johanna Catherina Coops, putri sulung dari Walikota Bandung saat itu, B. Coops, bersama dengan Petronella Roelefsen yang menjadi wakil Gubernur Jendral J.P Graaf Van Limburg Stirum. Pembangunan gedung yang bertujuan untuk dijadikan pusat pemerintahan Belanda ini memilih kota Bandung sebagai ibu kota karena menurut mereka, iklim kota Bandung pada masa itu mirip dengan iklim yang ada di Perancis Selatan kala musim panas tiba.
4 tahun adalah waktu yang dibutuhkan oleh tim beranggotakan 2.000 orang itu untuk menyelesaikan GB, tepatnya pada bulan September 1942. Ketika selesai, bagian gedung yang termasuk di dalamnya adalah bangunan utama GB itu sendiri yang di dalamnya terdapat kantor pusat pos, Perpustakaan (PTT), serta telepon dan telegraf. Ternyata, kemegahan dan keunikan yang disajikan oleh Gedung Sate ini tidak dikerjakan oleh Ir. J. Gerber sendirian, karena ia mendapatkan banyak masukan dari maestro Belanda dalam bidang seni arsitektur, yaitu Dr. Hendrik Petrus Berlage. Berlage menyarankan Gerber bahwa ia harus memasukkan sedikit nuansa tradisional Indonesia dalam gedung yang akan ia buat di daerah Indonesia tersebut.
Selama proses pembuatan dan penyelesaiannya, Gedung Sate di Bandung menuai banyak pujian dari banyak kalangan. Rata-rata pujiannya berisi tentang betapa mempesonanya gedung yang memiliki gaya arsitektur lain dari yang lain ini, hingga menyebut gaya tersebut sebagai Indo Europeeschen architectuur stijl (gaya arsitektur Indo-Eropa). D. Ruhl juga menuliskan bahwa menurutnya Gedung Sate adalah gedung dengan gaya arsitektur yang paling indah di Indonesia. Tulisannya ini bisa ditemui pada buku dengan judul Bandoeng en haar Hoogvlakte yang diterbitkan pada tahun 1952. Pendapat lain muncul dari dua arsitek terkenal Belanda yaitu Cor Pashier dan Jam Wittenberg, dimana menurut mereka Gedung Sate adalah hasil eksperimen penggabungan dua gaya arsitektur yaitu Indonesia dan Eropa.
Dalam rancangan cetak biru GB, Gerber menyatukan beberapa gaya arsitektur, seperti misalnya pada jendela, tema yang digunakan adalah Moor Spanyol. Gaya yang berbeda digunakan untuk bangunan secara keseluruhan yang bergaya Rennaisance Italia. Untuk menaranya sendiri, Gerber memilih gaya Asia, terutama gaya atap pura yang ada di Bali dan pagoda yang ada di Thailand. Dilihat pada atap GB, puncaknya dihiasi dengan “tusuk sate” yang memiliki 6 buah benda bulat. Terjadi perdebatan tentang benda ini, dimana ada versi yang mengatakan bahwa benda tersebut adalah sate, jambu air, atau bahkan melati yang berjumlah 6 buah. Jumlah benda tersebut adalah representasi dari biaya pembangunan gedung megah itu, yaitu 6 juta gulden.
C.Sejarah Berdirinya Gedung Sate Di Bandung
dibangun agar bisa menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda, tepat setelah Batavia dinilai tidak lagi pantas menjadi ibu kota karena perkembangannya. Pengguna awal gedung ini ditargetkan adalah Departemen Lalu Lintas dan Pekerjaan Umum. Namun dialih fungsikan sehingga hanya Jawatan Pekerjaan Umum yang menggunakan gedung ini. Pada tanggal 3 Desember 1945, terjadi peristiwa berdarah dimana peristiwa tersebut merenggut nyawa 7 orang pemuda yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk mempertahankan gedung yang indah tersebut dari pasukan-pasukan Gurkha yang berusaha menyerang. Demi mengenang ke-7 orang pemuda yang dengan gagah berani menggadaikan nyawa, dibuatlah sebuah tugu peringatan dengan batu sebagai bahannya dan diletakkan di bagian belakang halaman Gedung Sate. Tugu ini kemudian dipindahkan pada 3 Desember 1970 atas perintah dari Menteri Pekerjaan Umum.
Pada tahun 1980, GB kemudian lebih dikenal dengan nama Kantor Gubernur. Hal ini masuk akal karena gedung ini kemudian menjadi pusat aktivitas dari pemerintahan yang ada di Provinsi Jawa Barat. Sebelumnya, pusat pemerintahan di Jawa Barat terletak di Gedung Kerta Mukti yang ada di Jalan Braga, Bandung. Ruang kerja bagi Gubernur terpilih terdapat di lantai 2. Di lantai tersebut, juga terdapat ruangan bagi para Wakil Gubernur, Asisten Biro, dan Sekretaris Daerah.
Kesempurnaan GB sendiri semakin memesona ketika gedung baru yang “menyontek” gaya arsitektur Gedung Sate dengan sedikit sentuhan asli buah karya Ir. Sudibyo dibangun pada tahun 1977. Gedung baru yang menambahkan daftar cerita dalam sejarah berdirinya Gedung Sate di Bandung ini diperuntukkan khusus bagi para Anggota DPRD provinsi Jawa Barat ketika mereka harus melaksanakan tugas mereka sebagai penyampai aspirasi masyarakat daerah yang mereka ayomi. Gedung ini juga kini menjadi objek wisata kota karena beberapa dari mereka mengaku memiliki ikatan emosi maupun sejarah dengan gedung yang dibuat pada masa kolonial Belanda tersebut.
sumber : http://www.portalsejarah.com/sejarah-berdirinya-gedung-sate-di-bandung.html
A.Pengertian Anak Luar Biasa
Ada tiga pengertian tentang anak luar biasa yang sering membingunkan yaitu;
a).pengertian tentang anak cacat atau anak yang menyandang ketuna-an
b).pengertian tentang anak luar biasa atau anak berkelainan
c).pengertian anak berkebutuhan khusus.
Kerancuan untuk membedakan ketiga pengertian tersebut timbul karena yang diamati oleh masyarakat pada umumnya, adalah penyelenggaraan pendidikan luar biasa berlangsung di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan anak-anak yang berada di sekolah semacam itu umumnya adalah anak cacat atau anak yang menyandang ketunaan. Anak berkelainan atau anak yang berkebutuhan khusus memiliki arti, di dalam yang mencakup anak cacat atau anak penyandaan ketunaan yang memerlukan pelayanan khusus.
Ditinjau dari sudut statistic, yang dimaksud dengan anak luar biasa ialah mereka yang menyimpan dari kriteria normal atau rata-rata. Criteria normal atau rata-rata umumnya mencakup 68,26% atau dibulatkan menjadi 68 % dari populasi sedangkan penyimpanan ke bawah dan ke atas masing-masing mencakup 15,865 % atau dibulatkan menjadi 16%. Penyimpanan dapat mencakup ketajaman sensomotorik, seperti penglihatan, pendengaran, kapasitas intelektual kondisi, kematangan emosional, perilaku dan sebagainya. Jadi secara statistic yang dimaksud dengan anak luar biasa atau anak berkelainan ialah anak yang menyimpan dari kriteria normal atau rata-rata, baik penyimpangan ke atas maupun ke bawah. Sedangkan anak penyandaan ketunaan atau cacat adalah yang menyimpan ke bawah dari criteria normal.
B.Klasifikasi Anak Luar Biasa
Klasifikasi anak luar biasa hendaknya memperhatikan memperhatikan pemberian cap atau label negative terhadap anak luar biasa, terutama yang tergolong anak ketunaan. Pemberian lebel negative terhadap anak luar biasa dapat berakibat negative pula bagi perkembangan kepribadian anak luar biasa yang bersangkutan. Untuk keperluan pembelajaran Kirk dan Gallager (1979) mengklasifikasikan anak luar biasa kedalam lima kelompok, yaitu;
a).Kelainan mental, meliputi anak-anak yang memiliki kapasitas intelektual luar biasa tinggi dan yang lamban dalam belajar
b).Kelainan sensorik, meliputi anak yang kelainan pendengaran dan kerusakan penglihatan.
c).Gangguan komunikasi, meliputi anak–anak yang kesulitan belajar dan gangguan dalam bicara dan bahasa.
d).Gangguan perilaku, meliputi gangguan emosional dan ketidaksesuaian perilaku social atau tuna laras.
e).Tuna ganda atau cacat berat, meliputi macam-macam kombinasi kecacatan seperti cerebral palsy dengan tunagrahita, tuna netra dengan tunagrahita dan sebagainya.
C.Mengenal Anak Luar Biasa
Perubahan istilah dari anak cacat, anak luar biasa/berkelainan menjadi anak berkebutuhan khusus sesungguhnya merupakan perubahan cukup mendasar.
Bertolak dari pengertian anak luar biasa, pendidikan luar biasa ditegakkan. Untuk menghindari terjadinya kekeliruan mendasar tentang pemahaman pendidikan luar biasa atau ortopedagogik diperlukan pemahaman tentang pengertian anak luar biasa dan klasifikasinya.
D.Konsep Dasar Ortopedagogik
1.Pengertian Dan Jenis Ortopedagogik
Ortopedagogik berasal dari bahasa Yunani Arios artinya lurus, baik, sembuh, atau normal. Paedos artinya anak dan Agogos artinya pendidikan, pimpinan atau bimbingan. Ortopedagogik adalah ilmu pendidikan bagi anak luar biasa. Ortopedagogik sering dibagi menjadi dua macam yaitu ortopedagogik umum dan ortopedagogik khusus.
2.Ortopedagogik Sebagai Aplikasi Teori-Teori Ilmu Lain.
Dengan perkembangan ilmu yang berkenaan dengan sebab-sebab suatu penyakit dan ilmu tentang gejala-gejala suatu penyakit dalam ilmu kedokteran, terutama ilmu kedokteran jiwa, dan ilmu syaraf para dokter menemukan adanya penyakit yang disebabkan oleh kesalahan atau kekeliruan dalam pelaksanaan pendidikan.
3. Ortopedagogik Sebagai Pedagogic
Masalah pendidikan yang sering dihadapi dokter dan psikolog dalam melaksanakan tugas profesionalnya disebabkan karena kondisi kesehatan manusia sering berkaitan dengan pendidikan yang diperoleh sebelumnya sehingga diperlukan teknik penyembuhan yang bersifat mendidik.
4. Ortopedagogik Sebagai Disiplin Ilmu Yang Otonom
Perkembangan yang sangat pesat dalam ilmu pendidikan disebabkan oleh adanya kecendrungan dari para ilmuan untuk melakukan spesialisasi telaah keahliannya agar diperoleh tingkat analisis yang lebih tajam dan lebih seksama. Kecendrungan semacam itu juga melanda para ilmuan dalam bidang pendidikan bagi anak luar biasa untuk menjadikan ortopedagogik sebagai disiplinilmu yang otonom.
5. Ilmu-Ilmu Penunjang Ertapedagogik
Ilmu penunjang ortopeagogik adalah disiplin ilmu yang memungkinkan untuk menjalin kerja sama multi disipliner dengan ortopedagogik dalam memecahkan masalah pendidikan anak luar biasa. Berbagai disiplin ilmu yang sering terlibat dalam kerjasama multidisipliner untuk memecahkan masalah pendidikan anak luar biasa adalah ilmu kedokteran (neorologi, psikiatri, pediatri), biologi (anatomi, genetika), psikologi dan sosiologi. Ilmu ini yang sering terlibat dalam pendekatan multi disipliner tersebut sering disebut juga ilmu bantu atau ilmu penunjang ortopedagogik.
E.Landasan Dan Perkembangan Pendidikan Anak Luar Biasa
1. landasan
kelas regular dengan pengelompokan (Cluster) anak berbakat
kelas regular dengan penguasaan anak berbakat keluar kelas untuk mengikuti diskusi atau seminar tentang bidang studi yang diamati (pullout)
- kelas regular dengan cluster dan pullout
- kelas yang diindividualkan
- kelas yang diindividualkan dengan cluster
- kelas yang diindividualkan dengan cluster dan pullout
- kelas khusus dengan beberapa pengintegrasian
- kelas khusus dan
- sekolah khusus
Strategi pendidikan apapun yang diambil hendaknya selalu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a).Meskipun ada pengolompokan berdasarkan atas kemampuan atau kondisi kelainan, tiap anak memiliki karakteristik individual dan karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan karakteristik individual tersebut.
b).Hendaknya dihindari adanya pemisahan penuh antara anak-anak berkelainan dengan anak normal.
c).Diperlukan seleksi guru yang tepat bagi anak-anak berkelainan.
d).Pendidikan hendaknya mendorong pertumbuhan dan pekembangan semua potensi anak secara utuh, bukan hanya intelektual tetapi juga fisik, emosi dan intuisi.
sumber : http://fitriacholipah.blogspot.co.id/2013/12/pengertian-anak-luar-biasa.html
Ada tiga pengertian tentang anak luar biasa yang sering membingunkan yaitu;
a).pengertian tentang anak cacat atau anak yang menyandang ketuna-an
b).pengertian tentang anak luar biasa atau anak berkelainan
c).pengertian anak berkebutuhan khusus.
Kerancuan untuk membedakan ketiga pengertian tersebut timbul karena yang diamati oleh masyarakat pada umumnya, adalah penyelenggaraan pendidikan luar biasa berlangsung di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan anak-anak yang berada di sekolah semacam itu umumnya adalah anak cacat atau anak yang menyandang ketunaan. Anak berkelainan atau anak yang berkebutuhan khusus memiliki arti, di dalam yang mencakup anak cacat atau anak penyandaan ketunaan yang memerlukan pelayanan khusus.
Ditinjau dari sudut statistic, yang dimaksud dengan anak luar biasa ialah mereka yang menyimpan dari kriteria normal atau rata-rata. Criteria normal atau rata-rata umumnya mencakup 68,26% atau dibulatkan menjadi 68 % dari populasi sedangkan penyimpanan ke bawah dan ke atas masing-masing mencakup 15,865 % atau dibulatkan menjadi 16%. Penyimpanan dapat mencakup ketajaman sensomotorik, seperti penglihatan, pendengaran, kapasitas intelektual kondisi, kematangan emosional, perilaku dan sebagainya. Jadi secara statistic yang dimaksud dengan anak luar biasa atau anak berkelainan ialah anak yang menyimpan dari kriteria normal atau rata-rata, baik penyimpangan ke atas maupun ke bawah. Sedangkan anak penyandaan ketunaan atau cacat adalah yang menyimpan ke bawah dari criteria normal.
B.Klasifikasi Anak Luar Biasa
Klasifikasi anak luar biasa hendaknya memperhatikan memperhatikan pemberian cap atau label negative terhadap anak luar biasa, terutama yang tergolong anak ketunaan. Pemberian lebel negative terhadap anak luar biasa dapat berakibat negative pula bagi perkembangan kepribadian anak luar biasa yang bersangkutan. Untuk keperluan pembelajaran Kirk dan Gallager (1979) mengklasifikasikan anak luar biasa kedalam lima kelompok, yaitu;
a).Kelainan mental, meliputi anak-anak yang memiliki kapasitas intelektual luar biasa tinggi dan yang lamban dalam belajar
b).Kelainan sensorik, meliputi anak yang kelainan pendengaran dan kerusakan penglihatan.
c).Gangguan komunikasi, meliputi anak–anak yang kesulitan belajar dan gangguan dalam bicara dan bahasa.
d).Gangguan perilaku, meliputi gangguan emosional dan ketidaksesuaian perilaku social atau tuna laras.
e).Tuna ganda atau cacat berat, meliputi macam-macam kombinasi kecacatan seperti cerebral palsy dengan tunagrahita, tuna netra dengan tunagrahita dan sebagainya.
C.Mengenal Anak Luar Biasa
Perubahan istilah dari anak cacat, anak luar biasa/berkelainan menjadi anak berkebutuhan khusus sesungguhnya merupakan perubahan cukup mendasar.
Bertolak dari pengertian anak luar biasa, pendidikan luar biasa ditegakkan. Untuk menghindari terjadinya kekeliruan mendasar tentang pemahaman pendidikan luar biasa atau ortopedagogik diperlukan pemahaman tentang pengertian anak luar biasa dan klasifikasinya.
D.Konsep Dasar Ortopedagogik
1.Pengertian Dan Jenis Ortopedagogik
Ortopedagogik berasal dari bahasa Yunani Arios artinya lurus, baik, sembuh, atau normal. Paedos artinya anak dan Agogos artinya pendidikan, pimpinan atau bimbingan. Ortopedagogik adalah ilmu pendidikan bagi anak luar biasa. Ortopedagogik sering dibagi menjadi dua macam yaitu ortopedagogik umum dan ortopedagogik khusus.
2.Ortopedagogik Sebagai Aplikasi Teori-Teori Ilmu Lain.
Dengan perkembangan ilmu yang berkenaan dengan sebab-sebab suatu penyakit dan ilmu tentang gejala-gejala suatu penyakit dalam ilmu kedokteran, terutama ilmu kedokteran jiwa, dan ilmu syaraf para dokter menemukan adanya penyakit yang disebabkan oleh kesalahan atau kekeliruan dalam pelaksanaan pendidikan.
3. Ortopedagogik Sebagai Pedagogic
Masalah pendidikan yang sering dihadapi dokter dan psikolog dalam melaksanakan tugas profesionalnya disebabkan karena kondisi kesehatan manusia sering berkaitan dengan pendidikan yang diperoleh sebelumnya sehingga diperlukan teknik penyembuhan yang bersifat mendidik.
4. Ortopedagogik Sebagai Disiplin Ilmu Yang Otonom
Perkembangan yang sangat pesat dalam ilmu pendidikan disebabkan oleh adanya kecendrungan dari para ilmuan untuk melakukan spesialisasi telaah keahliannya agar diperoleh tingkat analisis yang lebih tajam dan lebih seksama. Kecendrungan semacam itu juga melanda para ilmuan dalam bidang pendidikan bagi anak luar biasa untuk menjadikan ortopedagogik sebagai disiplinilmu yang otonom.
5. Ilmu-Ilmu Penunjang Ertapedagogik
Ilmu penunjang ortopeagogik adalah disiplin ilmu yang memungkinkan untuk menjalin kerja sama multi disipliner dengan ortopedagogik dalam memecahkan masalah pendidikan anak luar biasa. Berbagai disiplin ilmu yang sering terlibat dalam kerjasama multidisipliner untuk memecahkan masalah pendidikan anak luar biasa adalah ilmu kedokteran (neorologi, psikiatri, pediatri), biologi (anatomi, genetika), psikologi dan sosiologi. Ilmu ini yang sering terlibat dalam pendekatan multi disipliner tersebut sering disebut juga ilmu bantu atau ilmu penunjang ortopedagogik.
E.Landasan Dan Perkembangan Pendidikan Anak Luar Biasa
1. landasan
kelas regular dengan pengelompokan (Cluster) anak berbakat
kelas regular dengan penguasaan anak berbakat keluar kelas untuk mengikuti diskusi atau seminar tentang bidang studi yang diamati (pullout)
- kelas regular dengan cluster dan pullout
- kelas yang diindividualkan
- kelas yang diindividualkan dengan cluster
- kelas yang diindividualkan dengan cluster dan pullout
- kelas khusus dengan beberapa pengintegrasian
- kelas khusus dan
- sekolah khusus
Strategi pendidikan apapun yang diambil hendaknya selalu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a).Meskipun ada pengolompokan berdasarkan atas kemampuan atau kondisi kelainan, tiap anak memiliki karakteristik individual dan karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan karakteristik individual tersebut.
b).Hendaknya dihindari adanya pemisahan penuh antara anak-anak berkelainan dengan anak normal.
c).Diperlukan seleksi guru yang tepat bagi anak-anak berkelainan.
d).Pendidikan hendaknya mendorong pertumbuhan dan pekembangan semua potensi anak secara utuh, bukan hanya intelektual tetapi juga fisik, emosi dan intuisi.
sumber : http://fitriacholipah.blogspot.co.id/2013/12/pengertian-anak-luar-biasa.html
Dampak Positif :
- Internet sebagai media komunikasi :merupakan fungsi internet yang paling banyak digunakan dimana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi dengan pengguna lainnya dari seluruh dunia.
- Media pertukaran data :dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (world wide web : jaringan situs-situs web) para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah.
- Media untuk mencari informasi atau data : perkembangan internet yang pesat, menjadikan www sebagai salah satu sumber informasi yang penting dan akurat.
- Kemudahan memperoleh informasi:
- kemudahan untuk memperoleh informasi yang ada di internet banyak membantu manusia sehingga manusia tahu apa saja yang terjadi. Selain itu internet juga bisa digunakan sebagai lahan informasi untuk bidang pendidikan, kebudayaan, dan lain-lain.
- Kemudahan bertransaksi dan berbisnis dalam bidang perdagangan : Dengan kemudahan ini, membuat kita tidak perlu pergi menuju ke tempat penawaran/penjualan karena dapat di lakukan lewat internet.
Dampak Negatif :
1. Pornografi
Anggapan yang mengatakan bahwa internet identik dengan pornografi, memang tidak salah. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela.Untuk mengantisipasi hal ini, para produsen browser melengkapi program mereka dengan kemampuan untuk memilih jenis home-page yang dapat di-akses.Di internet terdapat gambar-gambar pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan kepada seseorang untuk bertindak kriminal.
2. Violence and Gore
Kekejaman dan kesadisan juga banyak ditampilkan. Karena segi bisnis dan isi pada dunia internet tidak terbatas, maka para pemilik situs menggunakan segala macam cara agar dapat menjual situs mereka. Salah satunya dengan menampilkan hal-hal yang bersifat tabu.
3. Penipuan
Hal ini memang merajalela di bidang manapun. Internet pun tidak luput dari serangan penipu. Cara yang terbaik adalah tidak mengindahkan hal ini atau mengkonfirmasi informasi yang Anda dapatkan pada penyedia informasi tersebut.
4. Carding
Karena sifatnya yang real time(langsung), cara belanja dengan menggunakan Kartu kredit adalah carayang paling banyak digunakan dalam dunia internet. Para penjahat internet pun paling banyak melakukan kejahatan dalam bidang ini. Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi (yang menggunakan Kartu Kredit) on-line dan mencatat kode Kartu yang digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk kepentingan kejahatan mereka.
5. Perjudian
Dampak lainnya adalah meluasnya perjudian. Dengan jaringan yang tersedia, para penjudi tidak perlu pergi ke tempat khusus untuk memenuhi keinginannya. Anda hanya perlu menghindari situs seperti ini, karena umumnya situs perjudian tidak agresif dan memerlukan banyak persetujuan dari pengunjungnya.
Secara garis besar dampak negatif internet adalah :
- Mengurangi sifat sosial manusia karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu secara langsung (face to face).
- Dari sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan perubahan pola masyarakat dalam berinteraksi.
- Kejahatan seperti menipu dan mencuri dapat dilakukan di internet (kejahatan juga ikut berkembang).
- Bisa membuat seseorang kecanduan, terutama yang menyangkut pornografi dan dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan tersebut.

sumber : http://safitrinopela.blogspot.co.id/
Pengertian Kesenian
Kesenian adalah bagian dari budaya dan merupakan sarana yang digunakan untuk mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Selain mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia, kesenian juga mempunyai fungsi lain. Misalnya, mitos berfungsi menentukan norma untuk perilaku yang teratur serta meneruskan adat dan nilai-nilai kebudayaan. Secara umum, kesenian dapat mempererat ikatan solidaritas suatu masyarakat.
Pengertian Kesenian Menurut Ahli
1.Kottak
seni sebagai hasil ekspresi, kualitas, atau alam keindahan atau segala hal yang dapat melebihi keasliannya dan klasifikasi objek-subjek terhadap kriteria estetis.
2.Kuntjaraningrat
Kesenian ialah kompleks dari berbagai ide-ide, norma-norma, gagasan, nilai-nilai, serta peraturan dimana kompleks aktivitas dan tindakan tersebut berpola dari manusia itu sendiri dan pada umumnya berwujud berbagai benda-benda hasil ciptaan manusia.
3.William A. Haviland
Kesenian merupakan keseluruhan sistem yang dapat melibatkan proses penggunaan dari imajinasi manusia secara kreatif pada kelompok masyarakat dengan suatu kebudayaan tertentu.
4.J.J Hogman
Kesenian merupakan sesuatu yang memiliki beberapa unsur diantaranya unsur ideas, activities, serta artifacts.
5.Irving Stone
Kesenian merupakan sebuah kebutuhan pokok. Seperti halnya roti atau mantel hangat yang digunakan pada musim dingin. Mereka mengira bahwa kesenian merupakan barang mewah, pikirannya tidak utuh. Menurut Irving Stone, Roh manusia akan menjadi lapar akan kesenian seperti pada saat perut yang keroncongan minta makan.
Macam-macam kesenian Jawa Barat
1.Angklung
Angklung adalah sebuah alat atau waditra kesenian yang terbuat dari bambukhusus yangditemukan oleh Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun 1938. Ketika awalpenggunaannyaangklung masih sebatas kepentingan kesenian local atau tradisional.
2.DEGUNG
Sebuah kesenian sunda yang biasanya dimainkan pada acarahajatan. Kesenian degung ini digunakan sebagai musik pengiring/pengantar.Degung ini merupakan gabungan dari peralatan musik khas Jawa Baratyaitu,Gendang, Goong, Kempul, Saron, Bonang, Kacapi, Suling, Rebab, dansebagainya. Degung merupakan salah-satu kesenian yang paling populer di JawaBarat, karena iringan musik degung ini selalu digunakan dalam setiap acara hajatanyang masih menganut adat tradisional, selain itu musik degung juga digunakansebagai musik pengiring hampir pada setiap pertunjukan seni tradisional Jawa Baratlainnya. Selain seni tari, tanah Sunda juga terkenal dengan seni suaranya.
3.Kuda renggong
Kuda Renggong atau Kuda Depok ialah salah satu jenis kesenian helaran yangterdapat di Kabupaten Sumedang, Majalengka dan Karawang. Cara penyajiannyayaitu, seekor kuda atau lebih di hias warna-warni, budak sunat dinaikkan ke ataspunggung kuda tersebut, Budak sunat tersebut dihias seperti seorang Raja atauSatria, bisa pula meniru pakaian para Dalem Baheula, memakai Bendo, takwa danpakai kain serta selop.
4.Kecapi Suling
Suling adalah kesenian yang berasal dari daerah Jawa Barat, yaitu permainanalat musik tradisional yang memadukan suara alunan Suling dengan Kacapi(kecapi), iramanya sangat merdu yang biasanya diiringi oleh Mamaos (tembang)Sunda yang memerlukan cengkok/ alunan tingkat tinggi khas Sunda, yang padaumumnya nyanyian atau lagunya dibawakan oleh seorang penyanyi perempuan,yang dalam bahasa sunda disebut Sinden. Kacapi suling ini biasanya digunakanuntuk mengiringi nyanyian sund.
5.Rengkong
Rengkong adalah salah satu kesenian tradisional yang diwariskan oleh leluhurmasyarakat Sunda. Muncul sekitar tahun 1964 di daerah Kabupaten Cianjur danorangyang pertama kali memunculkan dan mempopulerkannya adalah H. Sopjan. Bentukkesenian ini sudah diambil dari tata cara masyarakat sunda dahulu ketika menanampadisampai dengan menemuinya.
Diantara Sekian Banyak Kesenian Di Tanah Sunda Ini Admin Hanya Menyediakan 5 Kesenian Sunda Hanya Untuk Contoh Saja.
sumber : https://nikeeeeens.wordpress.com/kesenian-jawa-barat/
Perbuatan Remaja Yang Harus Dihindari
Masa remaja merupakan masa labil yang harus dilalui oleh setiap umat manusia. Di masa labil ini remaja biasanya banyak melakukan percobaan – percobaan yang sering kali menjerumuskannya ke dalam berbagai macam perbuatan dosa tanpa disadarinya secara langsung.
Di masa remaja, manusia biasanya akan mulai mengenal lawan jenis yang dilanjutkan dengan aktivitas pacaran yang saat ini sudah dianggap wajar untuk dilaksanakan. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, pacaran dapat menimbulkan banyak sekali dampak negatif atau pun muderat bagi pelakunya baik dampak negatif yang dapat terlihat secara langsung maupun dampak negatif yang tidak dapat terlihat secara langsung.
Selain aktivitas pacaran, pergaulan remaja masa kini juga sudah tidak lagi berpedoman kepada ajaran Agama Islam. Bahkan, jika diteliti secara mendalam, pergaulan remaja masa kini cenderung lebih berpedoman kepada berbagai macam perbuatan dan kebiasaan bangsa barat yang notabene jauh berbeda dengan ajaran Agama Islam.
Perbuatan Yang Dilakukan Tanpa Sadar
1. Zina
Dosa besar pertama yang sering dilakukan remaja adalah zina. Seperti yang telah disebutkan di atas, remaja saat ini sudah menganggap pacaran merupakan hal yang biasa. Padahal jika dikaji secara mendalam, pacaran merupakan pintu awal terjadinya aktivitas perjinahan yang notabene merupakan salah satu aktivitas yang paling dibenci oleh Allah SWT. Hal ini senada dengan Ayat Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 32 yang artinya : “Dan janganlah kami mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan perbuatan yang buruk.” (QS. Al-Isra : 32).
2. Khalwat
Beberapa remaja Islam banyak yang berpendapat jika pacaran merupakan perbuatan yang boleh dilakukan selama masih dalam batas – batas tertentu dan belum menjerumus ke dalam perbuatan atau pun aktivitas zina. Padahal, jika ditelisik lebih mendalam ketika sedang berpacaran, mayoritas remaja biasanya secara tidak sadar akan melaksanakan berbagai macam kegiatan khalwat, seperti beberapa diantaranya adalah berduaan, berciuman, berpelukan, bersentuhan, dan berbagai macam perbuatan khalwat yang lainnya. Meskipun belum termasuk ke dalam zina, perbuatan ini tentunya bukanlah perbuatan yang mulia dan dapat menimbulkan dosa yang sangat besar kepada para pelakunya.
3. Minum – minuman Keras
Selain dua dosa di atas, perbuatan dosa lainnya yang juga sering dilakukan oleh remaja tanpa sadar adalah minum – minuman keras. Seperti yang kita ketahui bersama, remaja saat ini sarat dengan kehidupan modern yang penuh hura – hura. Untuk bisa terlihat gaul dan keren, remaja masa kini sering kali mengadopsi berbagai macam tindakan masyarakat barat yang notabene sangat jauh berbeda dengan adab pergaulan umat Islam.
Salah satu budaya barat yang banyak diadopsi oleh kaum remaja masa kini adalah kebiasaan minum – minuman keras. Seperti yang telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an, minuman keras merupakan salah satu perihal yang haram dan tidak baik untuk dikonsumsi. Menurut Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, orang yang minum khamar / minuman keras tidak akan diterima shalatnya selam 40 hari dan jika tidak segera bertaubat akan diganjar oleh Allah dengan minuman dari sungai kahabal yaitu nanahnya penduduk neraka.
sumber : http://beritaislamiterkini.blogspot.co.id/2016/01/perbuatan-dosa-yang-sering-dilakukan-remaja.html
Sejarah Singkat
Harvard College didirikan tahun 1636. Kampus utama Harvard berada di Cambridge dan Boston. Program studi di universitas ini tersebar di Fakultas Seni dan Sains, Sekolah Bisnis, Sekolah Desain, Sekolah Keagamaan, Sekolah Pascasarjana Pendidikan, Sekolah Pemerintahan JFK, Sekolah Hukum, Sekolah Kedokteran dan Sekolah Kesehatan Masyarakat. Selain menyelenggarakan pendidikan jenjang sarjana, pascasarjana, dan profesi, universitas ini juga punya program studi lanjutan dan summer program (program musim panas). Fasilitas yang tersedia di kampus ini di antaranya Museum Seni Harvard dan perpustakaan.
Biografi Pendiri HARVARD University (USA)
Universitas Harvard didirkan oleh John Harvard yang lahir pada tangga 26 November 1607 , dan kemudian meninggal pada Tanggal 14 September 1638 adalah seorang pendeta Inggris dan pendiri dari universitas paling bergengsi di dunia bernama Harvard College atau Universitas Harvard. ia memberikan separuh hartanya, bersama dengan perpustakaannya, untuk mendirikan sebuah sekolah dan menjalankannya terus-menerus. Jembatan Harvard di namakan atas namanya, seperti juga Perpustakaan John Harvard di Southwark, London. John Harvard lahir dan dibesarkan di Southwark, di tepi selatan Sungai Thames, di seberang Kota London.
Dia adalah anak keempat dari sembilan bersaudara, putra dari Robert Harvard (1562-1625), seorang tukang daging dan pemilik kedai, dan istrinya, Katherine Rogers (1584-1635), yang berasal dari Stratford-upon-Avon ayahnya bernama Thomas Rogers (1540-1611), kadang-kadang dianggap telah menjadi rekan John Shakespeare, ayah dari William Shakespeare (1564-1616). Dia dibaptis di gereja paroki (sekarang Southwark Cathedral) pada tahun 1607. John Harvard dididik di Grammar School St Juruselamat di Southwark, di mana ayahnya Robert adalah seorang gubernur. Pada tahun 1625, ayahnya, saudara tiri, dan dua saudara meninggal karena wabah.
Harvard kemudian masuk di Emmanuel College, Cambridge, pada Desember 1627 dan menerima gelar BA tahun 1632. Kemudian ibunya Katherine meninggal pada 1635 dan ayahnya Thomas pada musim semi 1637. John kemudian menikah dengan Ann Sadler (1614-1655), dari Ringmer, Sussex, pada bulan April tahun 1636, dia putri Pendeta John Sadler dan adik dari John Sadler, pengacara dan sekaligus seorang orientalis. Pada Mei 1637 ia beremigrasi dengan istrinya ke New England dan menetap di Charlestown, di mana banyak dari teman-teman sekelasnya telah tiba. menteri Charlestown membuatkannya sebuah Gereja, tetapi dalam tahun berikutnya ia terjangkit penyakit tuberkulosis dan meninggal pada tanggal 14 September 1638. Ia dimakamkan di Lapangan Jalan Phipps di Charlestown.
Sebagian harta Harvard diwariskan sekitar £ 779 (setengah dari tanah miliknya) dan perpustakaan ke New College atau sekolah yang baru, dan temannya, Nathaniel Eaton menjadi kepala sekolah atau rektor pertama perguruan tinggi ini. Catatan Eaton menunjukkan bahwa pembangunan kampus baru dimulai segera pada tahun 1638 dengan bantuan tukang kayu Thomas Meakins dan anaknya, Thomas Meakins Jr dari Charlestown. Ini benar-benar dibangun dari kayu dan punya kebun apel sendiri, dan dilengkapi dengan tempat tinggal atau asrama bagi sekitar 30 mahasiswa.
Pada tahun 1828, Alumni Harvard mendirikan sebuah monumen granit Patung john Harvard, batu aslinya setelah menghilang selama Revolusi Amerika. Sekolah baru itu kemudian dinamakan "Harvard College" pada tanggal 13 Maret 1639. Harvard adalah pertama disebut sebagai universitas ketimbang sebuah perguruan tinggi di Konstitusi Massachusetts pada tahun 1780.
Harvard College didirikan tahun 1636. Kampus utama Harvard berada di Cambridge dan Boston. Program studi di universitas ini tersebar di Fakultas Seni dan Sains, Sekolah Bisnis, Sekolah Desain, Sekolah Keagamaan, Sekolah Pascasarjana Pendidikan, Sekolah Pemerintahan JFK, Sekolah Hukum, Sekolah Kedokteran dan Sekolah Kesehatan Masyarakat. Selain menyelenggarakan pendidikan jenjang sarjana, pascasarjana, dan profesi, universitas ini juga punya program studi lanjutan dan summer program (program musim panas). Fasilitas yang tersedia di kampus ini di antaranya Museum Seni Harvard dan perpustakaan.
Biografi Pendiri HARVARD University (USA)
Universitas Harvard didirkan oleh John Harvard yang lahir pada tangga 26 November 1607 , dan kemudian meninggal pada Tanggal 14 September 1638 adalah seorang pendeta Inggris dan pendiri dari universitas paling bergengsi di dunia bernama Harvard College atau Universitas Harvard. ia memberikan separuh hartanya, bersama dengan perpustakaannya, untuk mendirikan sebuah sekolah dan menjalankannya terus-menerus. Jembatan Harvard di namakan atas namanya, seperti juga Perpustakaan John Harvard di Southwark, London. John Harvard lahir dan dibesarkan di Southwark, di tepi selatan Sungai Thames, di seberang Kota London.
Dia adalah anak keempat dari sembilan bersaudara, putra dari Robert Harvard (1562-1625), seorang tukang daging dan pemilik kedai, dan istrinya, Katherine Rogers (1584-1635), yang berasal dari Stratford-upon-Avon ayahnya bernama Thomas Rogers (1540-1611), kadang-kadang dianggap telah menjadi rekan John Shakespeare, ayah dari William Shakespeare (1564-1616). Dia dibaptis di gereja paroki (sekarang Southwark Cathedral) pada tahun 1607. John Harvard dididik di Grammar School St Juruselamat di Southwark, di mana ayahnya Robert adalah seorang gubernur. Pada tahun 1625, ayahnya, saudara tiri, dan dua saudara meninggal karena wabah.
Harvard kemudian masuk di Emmanuel College, Cambridge, pada Desember 1627 dan menerima gelar BA tahun 1632. Kemudian ibunya Katherine meninggal pada 1635 dan ayahnya Thomas pada musim semi 1637. John kemudian menikah dengan Ann Sadler (1614-1655), dari Ringmer, Sussex, pada bulan April tahun 1636, dia putri Pendeta John Sadler dan adik dari John Sadler, pengacara dan sekaligus seorang orientalis. Pada Mei 1637 ia beremigrasi dengan istrinya ke New England dan menetap di Charlestown, di mana banyak dari teman-teman sekelasnya telah tiba. menteri Charlestown membuatkannya sebuah Gereja, tetapi dalam tahun berikutnya ia terjangkit penyakit tuberkulosis dan meninggal pada tanggal 14 September 1638. Ia dimakamkan di Lapangan Jalan Phipps di Charlestown.
Sebagian harta Harvard diwariskan sekitar £ 779 (setengah dari tanah miliknya) dan perpustakaan ke New College atau sekolah yang baru, dan temannya, Nathaniel Eaton menjadi kepala sekolah atau rektor pertama perguruan tinggi ini. Catatan Eaton menunjukkan bahwa pembangunan kampus baru dimulai segera pada tahun 1638 dengan bantuan tukang kayu Thomas Meakins dan anaknya, Thomas Meakins Jr dari Charlestown. Ini benar-benar dibangun dari kayu dan punya kebun apel sendiri, dan dilengkapi dengan tempat tinggal atau asrama bagi sekitar 30 mahasiswa.
Pada tahun 1828, Alumni Harvard mendirikan sebuah monumen granit Patung john Harvard, batu aslinya setelah menghilang selama Revolusi Amerika. Sekolah baru itu kemudian dinamakan "Harvard College" pada tanggal 13 Maret 1639. Harvard adalah pertama disebut sebagai universitas ketimbang sebuah perguruan tinggi di Konstitusi Massachusetts pada tahun 1780.
Universitas Harvard kini menjadi salah satu universitas paling bergengsi di dunia dan mempunyai pendapatan terbesar di antara universitas-universitas di seluruh dunia (US$22,6 miliar pada tahun 2004), hampir dua kali lipat Universitas Yale, pesaing terdekatnya). Rangking universitas Amerika Serikat keluaran US News tahun 2005 menempatkan Universitas Harvard dan Universitas Princeton bersama-sama di urutan pertama. Universitas Harvard juga meraih urutan pertama pada tahun 2004, setelah lima tahun di posisi kedua dan ketiga. Times Higher Education Supplement World University Rankings juga menempatkan Universitas Harvard di urutan pertama.
sumber : http://www.biografiku.com/2011/07/biografi-john-harvard-pendiri.html
sumber : http://www.biografiku.com/2011/07/biografi-john-harvard-pendiri.html
Pengertian TIK
Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memuat semua teknologi yang berhubungan dengan penanganan informasi. Penanganan meliputi pengambilan,pengumpulan,pengolahan,penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi. Jadi, TIK adalah teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi.
Ditinjau dari susunan katanya, teknologi informasi dan komunikasi tersusun dari 3 (tiga) kata yang masing-masing memiliki arti sendiri. Kata pertama, teknologi, berarti pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material dan proses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Istilah teknologi sering menggambarkan penemuan alat-alat baru yang menggunakan prinsip dan proses penemuan saintifik.
Kata kedua dan ketiga, yakni informasi dan komunikasi, erat kaitannya dengan data. Informasi berarti hasil pemrosesan, manipulasi dan pengorganisasian sekelompok data yang memberi nilai pengetahuan (knowledge) bagi penggunanya. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi hubungan saling mempengaruhi di antara keduanya.
Jadi dapat di sumpulkan bahwa teknologi informasi dan komunikasi adalah hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dan proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain sehingga lebih cepat, lebih luas sebarannya, dan lebih lama penyimpanannya.
Ditinjau dari susunan katanya, teknologi informasi dan komunikasi tersusun dari 3 (tiga) kata yang masing-masing memiliki arti sendiri. Kata pertama, teknologi, berarti pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material dan proses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Istilah teknologi sering menggambarkan penemuan alat-alat baru yang menggunakan prinsip dan proses penemuan saintifik.
Kata kedua dan ketiga, yakni informasi dan komunikasi, erat kaitannya dengan data. Informasi berarti hasil pemrosesan, manipulasi dan pengorganisasian sekelompok data yang memberi nilai pengetahuan (knowledge) bagi penggunanya. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi hubungan saling mempengaruhi di antara keduanya.
Jadi dapat di sumpulkan bahwa teknologi informasi dan komunikasi adalah hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dan proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain sehingga lebih cepat, lebih luas sebarannya, dan lebih lama penyimpanannya.
Mengenal Perangkat TIK
Kata informasi memiliki arti tersendiri dan dalam penerapannya membutuhkan alat atau hardware yang spesifik. Begitu juga dengan kata komunikasi. Sekarang kita mengenal begitu banyak alat komunikasi yang membuat jarak tidak lagi menjadi masalah selama alat komunikasi tersebut tersedia. Informasi dapat ditayangkan atau disampaikan ke suatu tujuan yang jauh menggunakan peralatan-peralatan di bawah ini.
Kata informasi memiliki arti tersendiri dan dalam penerapannya membutuhkan alat atau hardware yang spesifik. Begitu juga dengan kata komunikasi. Sekarang kita mengenal begitu banyak alat komunikasi yang membuat jarak tidak lagi menjadi masalah selama alat komunikasi tersebut tersedia. Informasi dapat ditayangkan atau disampaikan ke suatu tujuan yang jauh menggunakan peralatan-peralatan di bawah ini.
- Komputer, yaitu alat yang berguna untuk mengolah data menjadi informasi menurut prosedur yang telah dirumuskan sebelumnya.
- Proyektor LCD (Liquid Crystal Display), yaitu alat untuk menayangkan informasi yang berasal dari komputer atau media informasi lain seperti DVD Player.
- OHP (Over Head Projector), yaitu alat untuk menayangkan informasi statis yang tertulis pada plastik transparansi.
- Radio, yaitu alat penerima informasi yang berasal dari stasiun pemancar berupa gelombang elektromagnet yang membawa informasi suara.
- Televisi, yaitu alat penerima informasi yang berupa gambar dan suara. Televisi berasal dari kata tele (jauh) dan vision (tampak/visual).
- Internet, yaitu hubungan antar komputer dalam suatu jaringan global yang memungkinkan setiap komputer saling bertukar informasi.
- GPS (Global Positioning System), yaitu alat informasi berfungsi menentukan letak, arah atau kecepatan benda yang berada di permukaan bumi.
- Faximile, yaitu alat untuk mengirim dan menerima dokumen melalui jalur telepon. Dokumen yang dikirim dengan faximile sama persis dengan dokumen asli.
- Satelit komunikasi, yaitu benda buatan manusia yang diletakkan di ruang angkasa untuk keperluan telekomunikasi.
- Telepon, yaitu alat komunikasi berguna untuk mengirim data suara melalui sinyal listrik.
- Handphone atau telepon seluler, yaitu alat komunikasi bergerak untuk mengirim data suara. Telepon seluler menggunakan gelombang elektromagnet sebagai media penghantar.
- Modem, yaitu perangkat keras yang berfungsi mengubah sinyal digital menjadi sinyal listrik yang dapat merambat melalui telepon, dan sebaliknya. Modem merupakan perangkat penting untuk mengakses Internet.
Akses Universitas
Bank Dunia sudah lama menyimpulkan adanya korelasi tinggi antara persentase populasi penduduk yang memiliki gelar sarjana dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan (Bank Dunia, 1996). Akses masuk ke universitas seharusnya dibuka secara adil dan merata. Sayangnya, sistem seleksi masuk perguruan tinggi kita masih jauh dari rasa keadilan.
Sistem seleksi masuk perguruan tinggi kita bukan saja berlaku tidak adil, melainkan dalam kebijakannya juga memakai pola pikir irasional, membuka peluang ketidakjujuran, dan belum memiliki keberpihakan pada mereka yang tersingkirkan secara ekonomi maupun budaya.
Tiga jalur
Saat ini Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sudah dimulai. Di Indonesia, ada tiga jalur di mana seseorang bisa masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN). Jalur pertama, yang sekarang ini sedang berlangsung, yaitu jalur undangan atau sering disebut dengan SNMPTN. Jalur undangan lebih banyak mempergunakan nilai rapor dan nilai lain sebagai bahan pertimbangan. Jalur kedua, jalur tes tertulis yang disebut Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).
Terakhir, ketiga, jalur mandiri, yaitu seleksi tertulis plus kriteria lain-bergantung pada kebijakan PT-bagi mereka yang tidak lolos SBMPTN. Biasanya, seleksi jalur mandiri hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki uang karena biaya masuknya mahal.
Tahun ini, kuota SNMPTN dikurangi 10 persen dari tahun lalu, sehingga kuotanya menjadi 40 persen. Jalur tes tertulis tetap 30 persen. Jatah kuota 10 persen dari jalur undangan dialihkan ke jalur mandiri. Kebijakan ini secara transparan menunjukkan keberpihakan PT pada orang-orang kaya. Sebab, jalur mandiri biasanya diisi oleh mereka yang mampu membayar mahal untuk masuk ke PTN secara mandiri.
Chua (2003) dalam risetnya menyatakan bahwa kesejahteraan karena perbedaan tingkat pendidikan tidak terdistribusi secara proporsional, tetapi hanya menguntungkan kelompok orang kaya dan menyingkirkan kelompok lain. Analisis Chua ini justru malah diafirmasi oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dengan mengalihkan kuota SNMPTN untuk jalur mandiri. Orientasi ekonomis PT sangat terlihat dari kebijakan ini.
Masalah integritas
Sistem seleksi kita juga membuka peluang adanya inflasi dan manipulasi nilai. Dengan adanya sistem undangan yang besarnya 40 persen, di mana siswa tidak perlu melalui tes tertulis, potensi kecurangan ada di sekolah. Kita tahu, di sekolah-sekolah kita, untuk ujian nasional (UN) saja masih banyak terjadi kecurangan. Dengan adanya jalur undangan di mana nilai rapor menjadi kriteria, banyak sekolah berusaha menaikkan nilai siswa secara sistematis melalui penentuan kriteria ketuntasan minimal sehingga para siswa mereka dapat lolos masuk ke PTN.
Kecenderungan ini sesungguhnya di masa depan akan merusak kualitas PT itu sendiri karena para siswa yang lolos adalah mereka yang nilainya sudah diinflasi sehingga tidak menunjukkan realitas sesungguhnya tentang kemampuan siswa. Kebijakan seleksi masuk telah membuka peluang potensi disintegritas moral di kalangan pendidik. Inflasi ini sering kali menjadi modus, bahkan sejak siswa berada di kelas X.
Melawan akal
Sistem seleksi jalur undangan melawan akal sehat dan tidak adil. Sistem proporsi berdasarkan akreditasi sekolah, meskipun tampaknya baik, tetapi sesungguhnya didasari pola pikir yang tidak logis dan sesat. Sekolah dengan akreditasi A memperoleh kuota 70 persen, B 50 persen, C 25 persen dan tidak terakreditasi hanya memperoleh kuota 10 persen.
Pemikiran ini sesat karena menyimpulkan kualitas individu dari kualitas lembaga. Dalam ilmu logika, ini disebut dengan genetic fallacy, di mana seseorang itu dianggap tidak berkualitas, tidak kredibel, dan tidak dapat dipercaya karena asal-usulnya, baik itu karena ras, agama, sosial, atau lembaga di mana ia berasal.
Pemikiran tidak logis ini juga terjadi ketika indeks integritas UN dipakai sebagai pertimbangan masuk PT. Siswa dengan nilai tinggi, tetapi sekolahnya memiliki integritas rendah bisa jadi tidak lolos dalam seleksi karena kualitas sekolahnya. Kebijakan sesat pikir ini karena menganggap bahwa sekolah yang indeks integritasnya rendah, otomatis seluruh siswanya tidak jujur. Padahal, SNMPTN adalah seleksi individu, bukan seleksi lembaga pendidikan!
Seleksi masuk PTN juga mendiskriminasi dan tidak adil karena menghukum individu yang tidak bersalah. Bila ada lembaga pendidikan terbukti memanipulasi nilai, lembaga pendidikan itu akan dihapus dari daftar SNMPTN tahun berikutnya, sehingga siswa kelas XI yang tidak bersalah tertutup aksesnya untuk melaju ke PTN melalui jalur SNMPTN tahun depan.
Demikian juga ketika ada siswa yang sudah menerima undangan SNMPTN, tetapi kemudian membatalkannya, maka yang menerima akibat adalah adik kelasnya. Pola pikir ini sangat tidak rasional, tidak logis, tidak adil, dan sesungguhnya melanggar hak individu dalam memperoleh akses pendidikan.
Seleksi masuk PT seharus memakai kriteria keadilan, obyektivitas dan keadilan dengan lebih mengutamakan kalangan miskin, tetapi memiliki kapasitas dan kemampuan. Kuota jalur undangan harusnya hanya 5 persen, karena ini merupakan cerminan dari kandidat mahasiswa terbaik, berbakat, dan istimewa dalam hampir seluruh populasi dalam kurva normal, 85 persen untuk bersaing secara adil dan meritokratis melalui seleksi tertulis oleh lembaga independen, dan 10 persen siswa untuk jalur mandiri yang mencerminkan persentasi rata-rata orang kaya dalam seluruh populasi. Dalam kuota 85 persen ini, harus ada kuota kebijakan afirmatif untuk daerah-daerah khusus sehingga peningkatan kualitas sumber daya manusia ini bisa ditingkatkan.
Perguruan tinggi kita tidak akan bermutu bila sistem seleksi kita masih memberi ruang bagi berbagai bentuk ketidakjujuran, tidak logis, dan tidak adil. Universitas seharusnya mendorong tegaknya integritas moral pendidik, menjadi contoh dipraktikkannya penalaran yang jernih dan logis, serta menjadi sumber inspirasi bagi perjuangan keadilan bagi mereka yang miskin dan tersingkirkan.
sumber :http://widiyanto.com/category/artikel/artikel-pendidikan/
Bank Dunia sudah lama menyimpulkan adanya korelasi tinggi antara persentase populasi penduduk yang memiliki gelar sarjana dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan (Bank Dunia, 1996). Akses masuk ke universitas seharusnya dibuka secara adil dan merata. Sayangnya, sistem seleksi masuk perguruan tinggi kita masih jauh dari rasa keadilan.
Sistem seleksi masuk perguruan tinggi kita bukan saja berlaku tidak adil, melainkan dalam kebijakannya juga memakai pola pikir irasional, membuka peluang ketidakjujuran, dan belum memiliki keberpihakan pada mereka yang tersingkirkan secara ekonomi maupun budaya.
Saat ini Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sudah dimulai. Di Indonesia, ada tiga jalur di mana seseorang bisa masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN). Jalur pertama, yang sekarang ini sedang berlangsung, yaitu jalur undangan atau sering disebut dengan SNMPTN. Jalur undangan lebih banyak mempergunakan nilai rapor dan nilai lain sebagai bahan pertimbangan. Jalur kedua, jalur tes tertulis yang disebut Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).
Terakhir, ketiga, jalur mandiri, yaitu seleksi tertulis plus kriteria lain-bergantung pada kebijakan PT-bagi mereka yang tidak lolos SBMPTN. Biasanya, seleksi jalur mandiri hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki uang karena biaya masuknya mahal.
Tahun ini, kuota SNMPTN dikurangi 10 persen dari tahun lalu, sehingga kuotanya menjadi 40 persen. Jalur tes tertulis tetap 30 persen. Jatah kuota 10 persen dari jalur undangan dialihkan ke jalur mandiri. Kebijakan ini secara transparan menunjukkan keberpihakan PT pada orang-orang kaya. Sebab, jalur mandiri biasanya diisi oleh mereka yang mampu membayar mahal untuk masuk ke PTN secara mandiri.
Chua (2003) dalam risetnya menyatakan bahwa kesejahteraan karena perbedaan tingkat pendidikan tidak terdistribusi secara proporsional, tetapi hanya menguntungkan kelompok orang kaya dan menyingkirkan kelompok lain. Analisis Chua ini justru malah diafirmasi oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dengan mengalihkan kuota SNMPTN untuk jalur mandiri. Orientasi ekonomis PT sangat terlihat dari kebijakan ini.
Masalah integritas
Sistem seleksi kita juga membuka peluang adanya inflasi dan manipulasi nilai. Dengan adanya sistem undangan yang besarnya 40 persen, di mana siswa tidak perlu melalui tes tertulis, potensi kecurangan ada di sekolah. Kita tahu, di sekolah-sekolah kita, untuk ujian nasional (UN) saja masih banyak terjadi kecurangan. Dengan adanya jalur undangan di mana nilai rapor menjadi kriteria, banyak sekolah berusaha menaikkan nilai siswa secara sistematis melalui penentuan kriteria ketuntasan minimal sehingga para siswa mereka dapat lolos masuk ke PTN.
Kecenderungan ini sesungguhnya di masa depan akan merusak kualitas PT itu sendiri karena para siswa yang lolos adalah mereka yang nilainya sudah diinflasi sehingga tidak menunjukkan realitas sesungguhnya tentang kemampuan siswa. Kebijakan seleksi masuk telah membuka peluang potensi disintegritas moral di kalangan pendidik. Inflasi ini sering kali menjadi modus, bahkan sejak siswa berada di kelas X.
Melawan akal
Sistem seleksi jalur undangan melawan akal sehat dan tidak adil. Sistem proporsi berdasarkan akreditasi sekolah, meskipun tampaknya baik, tetapi sesungguhnya didasari pola pikir yang tidak logis dan sesat. Sekolah dengan akreditasi A memperoleh kuota 70 persen, B 50 persen, C 25 persen dan tidak terakreditasi hanya memperoleh kuota 10 persen.
Pemikiran ini sesat karena menyimpulkan kualitas individu dari kualitas lembaga. Dalam ilmu logika, ini disebut dengan genetic fallacy, di mana seseorang itu dianggap tidak berkualitas, tidak kredibel, dan tidak dapat dipercaya karena asal-usulnya, baik itu karena ras, agama, sosial, atau lembaga di mana ia berasal.
Pemikiran tidak logis ini juga terjadi ketika indeks integritas UN dipakai sebagai pertimbangan masuk PT. Siswa dengan nilai tinggi, tetapi sekolahnya memiliki integritas rendah bisa jadi tidak lolos dalam seleksi karena kualitas sekolahnya. Kebijakan sesat pikir ini karena menganggap bahwa sekolah yang indeks integritasnya rendah, otomatis seluruh siswanya tidak jujur. Padahal, SNMPTN adalah seleksi individu, bukan seleksi lembaga pendidikan!
Seleksi masuk PTN juga mendiskriminasi dan tidak adil karena menghukum individu yang tidak bersalah. Bila ada lembaga pendidikan terbukti memanipulasi nilai, lembaga pendidikan itu akan dihapus dari daftar SNMPTN tahun berikutnya, sehingga siswa kelas XI yang tidak bersalah tertutup aksesnya untuk melaju ke PTN melalui jalur SNMPTN tahun depan.
Demikian juga ketika ada siswa yang sudah menerima undangan SNMPTN, tetapi kemudian membatalkannya, maka yang menerima akibat adalah adik kelasnya. Pola pikir ini sangat tidak rasional, tidak logis, tidak adil, dan sesungguhnya melanggar hak individu dalam memperoleh akses pendidikan.
Seleksi masuk PT seharus memakai kriteria keadilan, obyektivitas dan keadilan dengan lebih mengutamakan kalangan miskin, tetapi memiliki kapasitas dan kemampuan. Kuota jalur undangan harusnya hanya 5 persen, karena ini merupakan cerminan dari kandidat mahasiswa terbaik, berbakat, dan istimewa dalam hampir seluruh populasi dalam kurva normal, 85 persen untuk bersaing secara adil dan meritokratis melalui seleksi tertulis oleh lembaga independen, dan 10 persen siswa untuk jalur mandiri yang mencerminkan persentasi rata-rata orang kaya dalam seluruh populasi. Dalam kuota 85 persen ini, harus ada kuota kebijakan afirmatif untuk daerah-daerah khusus sehingga peningkatan kualitas sumber daya manusia ini bisa ditingkatkan.
Perguruan tinggi kita tidak akan bermutu bila sistem seleksi kita masih memberi ruang bagi berbagai bentuk ketidakjujuran, tidak logis, dan tidak adil. Universitas seharusnya mendorong tegaknya integritas moral pendidik, menjadi contoh dipraktikkannya penalaran yang jernih dan logis, serta menjadi sumber inspirasi bagi perjuangan keadilan bagi mereka yang miskin dan tersingkirkan.
sumber :http://widiyanto.com/category/artikel/artikel-pendidikan/









